TANTANGAN MUNGKIN BERAT DAN HARAPAN BISA HILANG TETAPI JANGAN SAMPAI KEHILANGAN SEMANGATNYA 

Yulita, jadilah seorang anak yang berguna dan membawa perubahan bagi keluarga kita, Inilah kalimat terakhir yang di sampaikan bapak ketika akan melepaskan kepergianku, guna melanjutkan pendidikan di Kota metropolitan tepatnya di Yayasan Prima Unggul.
Dengan langkah berat disertai tetesan air mata, Ku langkahkan kaki meninggalkan Rumah Reot dengan bambu yang menjadi Topangan Rumah yang di huni 7 orang sanak keluarga, guna sebekal ilmu dan harapan.
Saya merasa bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Yayasan Prima Unggul.
Ypu adalah tempat di mana saya berperoses, semuanya tidak begitu berjalan dengan mulus banyak tantangan yang menjadi bahan pembelajaran bagi saya, terutama menghilangkan kebiasan-kebiasan lama saya, yang pemalu dan kurang percaya diri, saya bersyukur bahwa YPU dapat membantu saya dengan kegiatan siswa lewat program berjualan keliling, sehingga mau tak mau saya harus berbicara untuk menawarkan Dagangan, dari situlah saya mulai berproses mengasah kepecayaan diri saya dan menghilangkan rasa malu.
Kesempatan demi kesempatan saya dapatkan dimana saya di percayakan menjadi Tim Seragam YPU dan juga tampil untuk menari dan bernyayi mengisi berbagai acara bersama teman-teman YPU ini adalah suatu yang sangat saya syukuri.
Namun kebahagian ini tidak pernah luput dari kesedihan yang membuat saya sangat terpukul di mana saya di hadapkan dengan kepergian Bapak yang sangat saya sayangi , dan yang selalu menyimpan harapan Untuk saya, telah pergi di saat saya masih berjuang di Negri Rantau pada 22 Juni 2018 lalu. Teras semuanya hanya mimpi semata namun inilah kesungguhan yang harus saya terima.
Berat memang , namun saya percaya Bapak akan selalu menjadi pendukung dan pendoa bagi saya, saya akan membuat Bapak saya bahagia di Surga , walau tantangan berat namun semangat tidak akan pudar untuk terus berjuang membawa perubahan bagi keluarga.

Salam – Yunita, Kelas VIII
Papua, Merauke

MENERIMA DIRI SENDIRI

Ketika masih kecil saya begitu sulit untuk bisa menerima segala keadaan yang saya miliki, ini semua factor ejekan yang keseharian selalu terdengar oleh saya, dengan macam ragam versi dan kreatifitas mereka mengejek saya Si hitam, rambut keriting, hidup susah, tak punya bapak dan masih banyak lagi yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.
Keseharian saya hanya pasrah dan selalu mencari cara untuk menghindar dari perhatian mereka, sebenarnya ini adalah salah satu cara saya untuk tidak diejek Si rambut mekar walau sebenarnya, rambut saya memang sudah jelas mekar ketika menjelang siang, tapi entah kenapa saya tidak pernah luput dari perhatian mereka, dari situ saya hanya bisa berdiam diri, tidak punya semangat, saya tidak punya kepercayaan diri yang kuat, saya hanya bisa berdiam diri, dan tidak pernah mau aktif dalam kegiatan kelas maupun sekolah dan malas untuk berjuang, itulah yang membuat saya merasa bahwa saya tidak bisa berbuat apa-apa, dari teman teman sebaya saya.
Saat itu, saya hanya bisa menyalahkan diri sendiri dan yang terutama saya selalu menyalahkan Tuhan dan itulah yang membuat saya menjadi anak yang pendendam, emosian, dan tidak jarang saya berantem disekolah dan selalu di panggil untuk menghadap di ruang kantor “kepsek”.
Saya ingat saat itu ketika menginjak kelas 5 SD, Saya pun pindah sekolah dan tinggal di sebuah Komunitas yaitu Panti Asuhan Naungan Kasih Flores, Ende, Nusa Tengara Timur. Di Panti Asuhan saya banyak belajar bahwa saya benar- benar mensyukuri apa yang yang saya miliki, karena masih banyak teman-teman yang lebih susah dengan beragam latar belakang yang lebih buruk dari saya.
Dari situlah saya punya motivasi, dan membangun kembali kepercayaan diri saya untuk berproses menjadi yang lebih baik dan menemukan bakat dan kelebihan, yang selama ini tersembunyi dalam diri saya, saya merasa bersyukur bahwa saya bisa membanggakan mama semata wayang saya, dengan kelulus saya di jenjang SMP dan nilai prestasi yang saya raih, dan juga dengan sebuah kesempatan yang saya dapatkan yaitu meneruskan SMA di Jakarta tepatnya di Yayasan Prima Unggul.
Di Yayasan prima Unggul, saya banyak mendapat pelajaran tidak hanya belajar di kelas tapi, karakter dan pola pikir saya pun di bentuk, di YPU saya juga ini bisa mengembangkan bakat yang saya miliki yaitu bergabung dalam Tim Kreatifitas, yaitu mendaur ulang barang bekas menjadi sebuah karya kreatifitas kerajinan tangan dan saat ini saya juga mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan menjahit.

Salam:
Siska, Siswi YPU

BERSABAR DAN MENERIMA

Ketika saya masih SD, saya sering diejek oleh teman – teman sebaya saya, mereka selalu menyebut saya Eus bermata belo, hidung pesek dan berkulit hitam. Saya belajar untuk bersabar dan menerima diri apa adanya walau air mata terkadang juga jatuh membasahi pipi yang tak bisa lagi aku tahan, saya belajar untuk menerima ejekan mereka karna masih banyak orang yang mempunyai kekurangan yang jauh lebih buruk dari saya, saya selalu belajar untuk mensyukuri apa yang saya punya karna itu adalah anugrah dari Tuhan.
Saat ini juga saya masih banyak berjuang di rumah kehidupan YPU, dimana saya harus bisa jauh dari orang tua, di usia saya yang masih menginjak 9 tahun, untuk menimba ilmu dan banyak pengalaman di kota metropolitan, tepatnya di Yayasan Prima Unggul. Saya belajar untuk menjadi anak yang tidak bermanja – manja.
Di YPU selain belajar di kelas, saya juga belajar menari dan menyayi, selain itu saya juga mendapatkan kesempatan untuk menari dan menyayi di Gereja maupun di acara besar perusahaan saya mempunyai mimpi yaitu kelak bisa membangun sebuah sanggar di kampung halaman saya di Boawae Nagekeo, Flores, Nusa Tengara Timur.

BERJUANG DARI KETERBATASAN

Banyak yang mengatakan kalau saya mempunyai banyak kekurangan, sehinga menimbulkan ejekan yang kurang enak terdengar di telinga. Namun saya berusaha untuk belajar dan menerima semua segala kekurangan saya itu sebagai suatu bahan pembelajaran, untuk merubah diri saya menjadi lebih baik.
Saya melihat teman-teman yang mempunyai kekurangan yang sama seperti saya, tapi mereka terus berjuang untuk berubah. Disitu saya pun termotivasi untuk terus berjuang dengan berbagai keterbatasan yang saya miliki, saya percaya bahwa kekurangan adalah anugerah Tuhan yang terindah untuk saya. Sehingga membuat saya mengerti arti sebuah perjuangan.
Sudah 6 bulan saya berada di YPU, banyak tantangan yang saya hadapi yang terutama adalah dimana saya harus merubah kebiasaan buruk saya, yang sampai sekarang sulit sekali untuk saya tinggalkan .
Sebuah proses panjang saya lalui, membuat saya bersemangat dan percaya bahwa tantangan kecil bisa di lewati, pastinya tantangan yang sulit pun bisa saya hadapi dan selesaikan dengan baik, saya ingin membuat orang lain bahagia di saat bekerja dan melayani mereka dengan baik.
Yayasan Prima Unggul adalalah suatu wadah dimana saya bisa berperoses untuk merubah pribadi saya untuk menjadi yang lebih baik dan dimana saya selalu menanamkan nilai ketulusan dan totalitas disetiap kegiatan dan aktivitas yang saya lakukan.
Saya mempunyai mimpi besar, yaitu saya ingin membahagiakan kedua orang tua dan menjadi pembawa terang bagi keluarga.

Melan, Nagekeo, Flores
Kelas : X – Yayasan Prima Unggul

Photo by Roland Wiryawan

MIMPI YANG MENJADI KENYATAAN

Tidak pernah terpikir bahwa mimpi untuk keluar negeri ini menjadi nyata.
Sebuah mimpi yang dari dulu ingin kuraih. Tentunya ini bukanlah sesuatu yang instan bagi saya. Pastinya ada pilihan, siap untuk berproses lebih lanjut ataupun berhenti ditengah jalan dan out dari kelompok. Dengan tekat yang kuat, saya selalu menanamkan suatu perjuangan untuk bisa berproses masuk dalam Grup Magna.
Dengan ragam situasi, saya harus siap menerima kritikan dan komentar pada saat latihan dan mengurangi waktu tidur. Terutama harus hafal lagu yang berbahasa ingris, saya harus siap untuk menjalankan nya walaupun tidak gampang.
Saya sangat bersyukur bahwa pada bulan Oktober lalu, saya diberikan kesempatan untuk liburan bersama keluarga di daerah sekaligus mengurus Paspor untuk berangkat ke Singapura dan Malaysia. Tidak hanya itu, di YPU saya semakin mengembangkan bakat dan potensi saya.
Melalui banyak proses, akhirnya dibulan Desember 2018, saya dipilih untuk bergabung di Group Magna dan bisa perform di Orchard Road-Singapura dan beberapa Gereja di Malaysia.
Terima kasih sekolahku, Yayasan Prima Unggul, yang selalu memberikan peluang kepada saya untuk dapat mengembangkan diri lebih baik. Semoga melalui banyak kesempatan ini, saya lebih siap untuk menjadi anak yang mandiri dan berdampak bagi orang disekitar saya.

Terima kasih…

Salam
Sella – Sanggau, Kalbar

TEGURAN YANG MENGAJARKANKU ARTI PERJUANGAN

Halo teman – teman,…
Nama saya Nius, saya berasal dari Pulau Nias – Sumatera Utara. Saat ini saya kelas VII-SMP di Yayasan Prima Unggul. Sudah 6 bulan saya bersekolah di YPU.
Awal saya datang di YPU, saya selalu menangis dan selalu minta pulang. Padahal kalau saya pulang, saya pasti tidak akan sekolah karena orangtua tidak mampu membiayai saya. Makin lama, keinginan saya untuk pulang semakin besar. Karena tidak ada cara lain untuk bisa pulang , saya akhirnya memutuskan untuk kabur dari YPU bersama teman yang sedaerah dengan saya. Tetapi, ternyata kakak – kakak di YPU mencari kami dan kami pun dibawa pulang lagi ke YPU. Saya mendapat teguran yang keras dari Pak Martin (Pendiri YPU). Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali, saya tetap mau kabur lagi. Tapi Kali ini saya pergi bersama dua teman saya yang sebetulnya kami datang bersama – sama dari Nias. Kami pun ditemukan lagi.
Dengan kejadian ini, saya diskors oleh Pak Martin dan Ibu Debby selama 2 bulan dan tidak diakui sebagai siswa YPU. Selama 2 bulan itu, saya merefleksikan diri saya bahwa perbuatan saya sangat tidak baik karena dapat merugikan diri saya dan orang lain yaitu orangtua saya dikampung. Saya juga tidak menghargai kesempatan yang telah diberikan oleh Romo saya dan juga YPU yang mau mendidik saya untuk menjadi anak yang baik.
Melewati 2 bulan merupakan waktu yang sangat panjang bagi saya karena tidak pernah mengikuti kegiatan di YPU, tidak pernah bergabung bersama teman – teman dan juga tidak pernah belajar. Perlahan saya mulai mengubah sikap saya yang malas, keras kepala dan selalu melawan kakak – kakak.
Saya pun akhirnya diberikan kesempatan untuk dapat bergabung bersama teman – teman dan mulai mengikuti kegiatan YPU. Dan yang lebih saya syukuri adalah saya dapat
diterima lagi menjadi siswa YPU.
Saya berkomitmen bahwa saya akan lebih mensyukuri kesempatan yang ada dan memperbaiki sikap saya. Saya ingin membanggakan kedua orangtua saya di kampung dengan cara saya harus menjadi anak yang lebih mandiri dan bisa menghasilkan sesuatu.

“Kesempatan hanya datang sekali dalam hidup, Kalaupun ada, maka waktu akan membuatnya berbeda”

Semoga dapat terinspirasi… Terima kasih