TANTANGAN MUNGKIN BERAT DAN HARAPAN BISA HILANG TETAPI JANGAN SAMPAI KEHILANGAN SEMANGATNYA 

Yulita, jadilah seorang anak yang berguna dan membawa perubahan bagi keluarga kita, Inilah kalimat terakhir yang di sampaikan bapak ketika akan melepaskan kepergianku, guna melanjutkan pendidikan di Kota metropolitan tepatnya di Yayasan Prima Unggul.
Dengan langkah berat disertai tetesan air mata, Ku langkahkan kaki meninggalkan Rumah Reot dengan bambu yang menjadi Topangan Rumah yang di huni 7 orang sanak keluarga, guna sebekal ilmu dan harapan.
Saya merasa bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan di Yayasan Prima Unggul.
Ypu adalah tempat di mana saya berperoses, semuanya tidak begitu berjalan dengan mulus banyak tantangan yang menjadi bahan pembelajaran bagi saya, terutama menghilangkan kebiasan-kebiasan lama saya, yang pemalu dan kurang percaya diri, saya bersyukur bahwa YPU dapat membantu saya dengan kegiatan siswa lewat program berjualan keliling, sehingga mau tak mau saya harus berbicara untuk menawarkan Dagangan, dari situlah saya mulai berproses mengasah kepecayaan diri saya dan menghilangkan rasa malu.
Kesempatan demi kesempatan saya dapatkan dimana saya di percayakan menjadi Tim Seragam YPU dan juga tampil untuk menari dan bernyayi mengisi berbagai acara bersama teman-teman YPU ini adalah suatu yang sangat saya syukuri.
Namun kebahagian ini tidak pernah luput dari kesedihan yang membuat saya sangat terpukul di mana saya di hadapkan dengan kepergian Bapak yang sangat saya sayangi , dan yang selalu menyimpan harapan Untuk saya, telah pergi di saat saya masih berjuang di Negri Rantau pada 22 Juni 2018 lalu. Teras semuanya hanya mimpi semata namun inilah kesungguhan yang harus saya terima.
Berat memang , namun saya percaya Bapak akan selalu menjadi pendukung dan pendoa bagi saya, saya akan membuat Bapak saya bahagia di Surga , walau tantangan berat namun semangat tidak akan pudar untuk terus berjuang membawa perubahan bagi keluarga.

Salam – Yunita, Kelas VIII
Papua, Merauke

MENERIMA DIRI SENDIRI

Ketika masih kecil saya begitu sulit untuk bisa menerima segala keadaan yang saya miliki, ini semua factor ejekan yang keseharian selalu terdengar oleh saya, dengan macam ragam versi dan kreatifitas mereka mengejek saya Si hitam, rambut keriting, hidup susah, tak punya bapak dan masih banyak lagi yang tak bisa saya sebutkan satu persatu.
Keseharian saya hanya pasrah dan selalu mencari cara untuk menghindar dari perhatian mereka, sebenarnya ini adalah salah satu cara saya untuk tidak diejek Si rambut mekar walau sebenarnya, rambut saya memang sudah jelas mekar ketika menjelang siang, tapi entah kenapa saya tidak pernah luput dari perhatian mereka, dari situ saya hanya bisa berdiam diri, tidak punya semangat, saya tidak punya kepercayaan diri yang kuat, saya hanya bisa berdiam diri, dan tidak pernah mau aktif dalam kegiatan kelas maupun sekolah dan malas untuk berjuang, itulah yang membuat saya merasa bahwa saya tidak bisa berbuat apa-apa, dari teman teman sebaya saya.
Saat itu, saya hanya bisa menyalahkan diri sendiri dan yang terutama saya selalu menyalahkan Tuhan dan itulah yang membuat saya menjadi anak yang pendendam, emosian, dan tidak jarang saya berantem disekolah dan selalu di panggil untuk menghadap di ruang kantor “kepsek”.
Saya ingat saat itu ketika menginjak kelas 5 SD, Saya pun pindah sekolah dan tinggal di sebuah Komunitas yaitu Panti Asuhan Naungan Kasih Flores, Ende, Nusa Tengara Timur. Di Panti Asuhan saya banyak belajar bahwa saya benar- benar mensyukuri apa yang yang saya miliki, karena masih banyak teman-teman yang lebih susah dengan beragam latar belakang yang lebih buruk dari saya.
Dari situlah saya punya motivasi, dan membangun kembali kepercayaan diri saya untuk berproses menjadi yang lebih baik dan menemukan bakat dan kelebihan, yang selama ini tersembunyi dalam diri saya, saya merasa bersyukur bahwa saya bisa membanggakan mama semata wayang saya, dengan kelulus saya di jenjang SMP dan nilai prestasi yang saya raih, dan juga dengan sebuah kesempatan yang saya dapatkan yaitu meneruskan SMA di Jakarta tepatnya di Yayasan Prima Unggul.
Di Yayasan prima Unggul, saya banyak mendapat pelajaran tidak hanya belajar di kelas tapi, karakter dan pola pikir saya pun di bentuk, di YPU saya juga ini bisa mengembangkan bakat yang saya miliki yaitu bergabung dalam Tim Kreatifitas, yaitu mendaur ulang barang bekas menjadi sebuah karya kreatifitas kerajinan tangan dan saat ini saya juga mendapat kesempatan untuk mengikuti pelatihan menjahit.

Salam:
Siska, Siswi YPU

BERSABAR DAN MENERIMA

Ketika saya masih SD, saya sering diejek oleh teman – teman sebaya saya, mereka selalu menyebut saya Eus bermata belo, hidung pesek dan berkulit hitam. Saya belajar untuk bersabar dan menerima diri apa adanya walau air mata terkadang juga jatuh membasahi pipi yang tak bisa lagi aku tahan, saya belajar untuk menerima ejekan mereka karna masih banyak orang yang mempunyai kekurangan yang jauh lebih buruk dari saya, saya selalu belajar untuk mensyukuri apa yang saya punya karna itu adalah anugrah dari Tuhan.
Saat ini juga saya masih banyak berjuang di rumah kehidupan YPU, dimana saya harus bisa jauh dari orang tua, di usia saya yang masih menginjak 9 tahun, untuk menimba ilmu dan banyak pengalaman di kota metropolitan, tepatnya di Yayasan Prima Unggul. Saya belajar untuk menjadi anak yang tidak bermanja – manja.
Di YPU selain belajar di kelas, saya juga belajar menari dan menyayi, selain itu saya juga mendapatkan kesempatan untuk menari dan menyayi di Gereja maupun di acara besar perusahaan saya mempunyai mimpi yaitu kelak bisa membangun sebuah sanggar di kampung halaman saya di Boawae Nagekeo, Flores, Nusa Tengara Timur.

BERJUANG DARI KETERBATASAN

Banyak yang mengatakan kalau saya mempunyai banyak kekurangan, sehinga menimbulkan ejekan yang kurang enak terdengar di telinga. Namun saya berusaha untuk belajar dan menerima semua segala kekurangan saya itu sebagai suatu bahan pembelajaran, untuk merubah diri saya menjadi lebih baik.
Saya melihat teman-teman yang mempunyai kekurangan yang sama seperti saya, tapi mereka terus berjuang untuk berubah. Disitu saya pun termotivasi untuk terus berjuang dengan berbagai keterbatasan yang saya miliki, saya percaya bahwa kekurangan adalah anugerah Tuhan yang terindah untuk saya. Sehingga membuat saya mengerti arti sebuah perjuangan.
Sudah 6 bulan saya berada di YPU, banyak tantangan yang saya hadapi yang terutama adalah dimana saya harus merubah kebiasaan buruk saya, yang sampai sekarang sulit sekali untuk saya tinggalkan .
Sebuah proses panjang saya lalui, membuat saya bersemangat dan percaya bahwa tantangan kecil bisa di lewati, pastinya tantangan yang sulit pun bisa saya hadapi dan selesaikan dengan baik, saya ingin membuat orang lain bahagia di saat bekerja dan melayani mereka dengan baik.
Yayasan Prima Unggul adalalah suatu wadah dimana saya bisa berperoses untuk merubah pribadi saya untuk menjadi yang lebih baik dan dimana saya selalu menanamkan nilai ketulusan dan totalitas disetiap kegiatan dan aktivitas yang saya lakukan.
Saya mempunyai mimpi besar, yaitu saya ingin membahagiakan kedua orang tua dan menjadi pembawa terang bagi keluarga.

Melan, Nagekeo, Flores
Kelas : X – Yayasan Prima Unggul

Photo by Roland Wiryawan

MIMPI YANG MENJADI KENYATAAN

Tidak pernah terpikir bahwa mimpi untuk keluar negeri ini menjadi nyata.
Sebuah mimpi yang dari dulu ingin kuraih. Tentunya ini bukanlah sesuatu yang instan bagi saya. Pastinya ada pilihan, siap untuk berproses lebih lanjut ataupun berhenti ditengah jalan dan out dari kelompok. Dengan tekat yang kuat, saya selalu menanamkan suatu perjuangan untuk bisa berproses masuk dalam Grup Magna.
Dengan ragam situasi, saya harus siap menerima kritikan dan komentar pada saat latihan dan mengurangi waktu tidur. Terutama harus hafal lagu yang berbahasa ingris, saya harus siap untuk menjalankan nya walaupun tidak gampang.
Saya sangat bersyukur bahwa pada bulan Oktober lalu, saya diberikan kesempatan untuk liburan bersama keluarga di daerah sekaligus mengurus Paspor untuk berangkat ke Singapura dan Malaysia. Tidak hanya itu, di YPU saya semakin mengembangkan bakat dan potensi saya.
Melalui banyak proses, akhirnya dibulan Desember 2018, saya dipilih untuk bergabung di Group Magna dan bisa perform di Orchard Road-Singapura dan beberapa Gereja di Malaysia.
Terima kasih sekolahku, Yayasan Prima Unggul, yang selalu memberikan peluang kepada saya untuk dapat mengembangkan diri lebih baik. Semoga melalui banyak kesempatan ini, saya lebih siap untuk menjadi anak yang mandiri dan berdampak bagi orang disekitar saya.

Terima kasih…

Salam
Sella – Sanggau, Kalbar

TEGURAN YANG MENGAJARKANKU ARTI PERJUANGAN

Halo teman – teman,…
Nama saya Nius, saya berasal dari Pulau Nias – Sumatera Utara. Saat ini saya kelas VII-SMP di Yayasan Prima Unggul. Sudah 6 bulan saya bersekolah di YPU.
Awal saya datang di YPU, saya selalu menangis dan selalu minta pulang. Padahal kalau saya pulang, saya pasti tidak akan sekolah karena orangtua tidak mampu membiayai saya. Makin lama, keinginan saya untuk pulang semakin besar. Karena tidak ada cara lain untuk bisa pulang , saya akhirnya memutuskan untuk kabur dari YPU bersama teman yang sedaerah dengan saya. Tetapi, ternyata kakak – kakak di YPU mencari kami dan kami pun dibawa pulang lagi ke YPU. Saya mendapat teguran yang keras dari Pak Martin (Pendiri YPU). Kejadian itu tidak hanya terjadi sekali, saya tetap mau kabur lagi. Tapi Kali ini saya pergi bersama dua teman saya yang sebetulnya kami datang bersama – sama dari Nias. Kami pun ditemukan lagi.
Dengan kejadian ini, saya diskors oleh Pak Martin dan Ibu Debby selama 2 bulan dan tidak diakui sebagai siswa YPU. Selama 2 bulan itu, saya merefleksikan diri saya bahwa perbuatan saya sangat tidak baik karena dapat merugikan diri saya dan orang lain yaitu orangtua saya dikampung. Saya juga tidak menghargai kesempatan yang telah diberikan oleh Romo saya dan juga YPU yang mau mendidik saya untuk menjadi anak yang baik.
Melewati 2 bulan merupakan waktu yang sangat panjang bagi saya karena tidak pernah mengikuti kegiatan di YPU, tidak pernah bergabung bersama teman – teman dan juga tidak pernah belajar. Perlahan saya mulai mengubah sikap saya yang malas, keras kepala dan selalu melawan kakak – kakak.
Saya pun akhirnya diberikan kesempatan untuk dapat bergabung bersama teman – teman dan mulai mengikuti kegiatan YPU. Dan yang lebih saya syukuri adalah saya dapat
diterima lagi menjadi siswa YPU.
Saya berkomitmen bahwa saya akan lebih mensyukuri kesempatan yang ada dan memperbaiki sikap saya. Saya ingin membanggakan kedua orangtua saya di kampung dengan cara saya harus menjadi anak yang lebih mandiri dan bisa menghasilkan sesuatu.

“Kesempatan hanya datang sekali dalam hidup, Kalaupun ada, maka waktu akan membuatnya berbeda”

Semoga dapat terinspirasi… Terima kasih

SYUKURKU

Drama musikal Dian merupakan perwakilan dari sebagian mimpi yang menjadi kenyataan. Tidak pernah terbayang sebelumnya bisa tampil di tempat yang semegah dan sebesar ini, bisa tampil bersama artis ternama di Indonesia dan bisa mengenal coach-coach luar biasa yang sungguh memberikan sepenuh hatinya dalam membimbing dan mendampingi kami dalam proses ini.

Saya sangat bersyukur karena bisa terlibat langsung dalam sebuah event besar seperti ini mulai dari pembuatan skrip, penjualan tiket, penentuan kostum dan properti, koreografi serta menjadi pemeran dalam drama musikal ini sendiri membuat saya belajar dan mengetahui banyak hal.

Bukan hanya potensi saya di bidang seni tetapi juga di bidang marketing pun semakin terasah. “Dian” juga membuat saya dapat lebih mengenal kekuatan dan kelemahan yang ada di dalam diri saya.

Dan pastinya semua ini terjadi bukan semata-mata adalah karena kekuatan saya atau kami sendiri melainkan karena adanya dorongan dan pendampingan yang sangat kuat dari kedua orang asuh kami yang tak pernah henti-hentinya untuk mendampingi.

Jika diibaratkan sebagai Jam dinding bapak dan ibu selalu hadir setiap jam, menit bahkan detik untuk mengingatkan banyak hal yang harus diperbaiki dan menyemangati kami untuk terus maju walaupun ada beberapa kekurangan yang ada.

Hal yang paling saya syukuri lagi adalah saya sungguh merasakan kuasa Tuhan sungguh hadir dalam setiap proses ini.

Sebagai manusia yang tak sempurna, kerap kali air mata juga menjadi teman dalam melewati setiap proses ini. Rasa takut dan sikap yang lebih memilih diam dalam melakukan beberapa hal akhirnya membuat beberapa kegiatan yang harusnya bisa berjalan dengan lancar menjadi terhenti sejenak (terhambat).

Tapi saya sangat bersyukur karena melaui proses ini menjadikan saya pribadi yang lebih dewasa dan berpikir luas serta bisa bekerja sama dengan orang lain.

Terima kasih buat bapak dan mama semuanya yang telah mendukung kami dengan mengirimkan kain adatnya.

Baju yang dijahit dari kain adat tersebut sungguh sangat cantik bapa dan mama, sekali lagi terima kasih banyak.

Adel,
Boawae, Nagekeo, Nusa Tenggara Timur

KekuranganKU ADALAH keunikanKU
Hallo… Saya Ria, saya seorang anak yang suka merasa minder, dengan segala kekurangan yang saya miliki, hal ini berawal dari keseharian saya yang tidak pernah luput dari bullian dan ejekan teman-teman sebaya saya. Tidak di sekolah, tempat umum maupun di tempat bermain, pasti ada saja bahan ejekan mereka yang selalu terdengan di telinga saya ada yang mengatakan saya si hitam, jelek, pesek, pendek, gigi tidak rapi, yang paling parahnya mereka selalu menyingung bahwa aku tidak bisa berbuat sesuatu.
Terkadang saya selalu berusaha untuk berpura-pura tidak mendengar apa yang mereka katakan, tapi entah kenapa kekesalan saya terus meluap sehingga saya selalu memberontak dalam diri saya, berdiam diri dengan sembunyi-sembunyi saya menangis dipojokan ini adalah satu cara saya untuk menghindar dari perhatian mereka, dari saat itu saya merasa diperlakukan tidak adil, berontak dengan diri sendiri akan semua kekurangan yang saya miliki, memang saya paling berbeda dari saudara-saudari saya sehingga dirumah juga saya tidak pernah luput dari ejekan keluarga terlebih saudara-saudari saya.
Rasa syukur mulai bertumbuh dalam diri saya, yang membuat saya tersadar bahwa kekurangan yang saya miliki itu tidak sebanding dengan orang-orang yang saya jumpai, yang pastinya dengan kekurangan yang mereka miliki, tapi mereka tidak pernah putus asa bahkan mereka tidak merasa minder dengan ragam kekurangan yang mereka miliki. Saya belajar dari setiap pengalaman bahwa kekurangan itu adalah anugerah yang terindah dari Tuhan, dari kekurangan membuat kita berbeda dari yang lainnya Itulah “KEUNIKAN”

Ria-Nagekeo, NTT

“RUMAH KEHIDUPAN, WUJUDKAN IMPIAN”

Saya Floren, berasal dari Nangaroro – Flores – NTT. Ketika saya berusia 1 tahun orangtua saya pergi merantau di Malaysia karena keterbatasan ekonomi dan juga ketidakcocokan orangtua dengan keluarga saya. Saat itu saya tinggal dan diasuh oleh nenek saya.
Waktu terus berlalu, hingga saya berusia 15 tahun, orangtua saya tidak pernah kembali. Selama itu, yang saya tahu hanya nenek saya yang selalu saya panggil dengan sebutan MAMA.

Tumbuh tanpa kasih sayang dan perhatian kedua orangtua, tidak membuat saya lemah dan tidak bisa berbuat apa – apa. Sejak SD, saya selalu mendapatkan peringkat disekolah. Saya pun selalu dipilih dan diutus untuk mengikuti beberapa perlombaan didaerah. Diantaranya saya pernah mengikuti lomba Atletik dan mendapat juara pertama. Hampir setiap tahun saya selalu mengikuti kegiatan tersebut hingga SMP. Saya sering ikut diluar daerah saya. Bahkan sampai lulus SMP saya diberikan beasiswa oleh pemerintah untuk SMA di Kupang.

Tetapi setelah saya mendengar kabar dari seorang seorang Romo di keuskupan saya (Ende) bahwa ada sekolah di Jakarta yang mendidik anak – anak dari keluarga sederhana tapi yang memiliki daya juang untuk mandiri dan bisa berdampak. Dengan terpaksa, saya pun harus menolak kesempatan untuk sekolah di Kupang. Saya akhirnya memilih untuk ke Jakarta.

Awal saya datang ke YPU saya orangnya pendiam, malu, tidak tau mau buat apa – apa dan sering sakit-sakitan. Saya hanya melihat kegiatan – kegiatan kakak – kaka kelas saya. Merka sangat aktif dan rajin – rajin. Seiring berjalannya waktu, saya pun mulai pelan-pelan beradaptasi dengan lingkungan YPU. Berkat dukungan dari teman-teman, kakak tim dan arahan Bapak dan Ibu pendamping, akhirnya saya diberi kesempatan untuk belajar di bagian pendidikan. Tetapi itu justru menjadi sebuah tantangan untuk saya, kesempatan itu terkadang saya lalai, santai, menganggap itu semua bisa saya kerjakan.

Saya akhirnya mendapat teguran dan tanggung jawab itu dicabut kembali. Saya sangat menyadari bagaimana menjalankan sebuah tanggung jawab itu harus selalu rendah hati dan sabar.
Harapan saya kedepannya bagaimana saya harus belajar terus menerus dan mengubah karakter saya, lebih bertanggung jawab lagi dan berusaha menerima arahan dari orang lain. Saya akan belajar dari semua kekurangan saya agar cita-cita/impian saya dapat tercapai.

Saat ini saya berusia 17 tahun dan belum pernah bertemu dengan ibu saya. Saya ingin bertemu dengan mama saya dan juga kembali merasakan bagaiman kasih sayang seorang ibu……

By : Floren – Nangaroro, NTT

BANGKIT DARI KETERPURUKAN

Hidup ini ibarat roda berputar. Ada saat dimana kita berada diatas dan ada saat dimana kita berada dibawah. Kedua posisi dimana kita berada, sama-sama memberikan pelajaran hidup.
Di Yayasan Prima Unggul, saya belajar menjadi sosok yang tangguh menjalani kehidupan.
Bagi saya bangkit berarti bangun setelah terjatuh, misalnya ketika saya dipercaya untuk berjualan keliling kemudian saya rugi, saya harus tetap berjualan untuk mendapatkan keuntungan. Bila saya mendapat nilai jelek di sekolah, saya harus tetap semangat belajar untuk bisa mendapat nilai bagus di lain kesempatan. Saya akui memang, bahwa bangkit dari keterpurukan bukanlah perkara mudah, musuh terbesar adalah diri dan ego saya sendiri. saya harus melawan diri saya sendiri. Disaat saya jatuh seringkali saya menyalahkan keadaan, menyalahkan diri sendiri dan tidak mampu berbuat banyak selain meratapi kesalahan yang sebenarnya sudah berlalu. Luar biasa bagi saya karena di Yayasan Prima Unggul saya belajar banyak termasuk untuk mengevaluasi apa yang sudah saya lakukan, karena penyesalan tidak akan membuat saya menjadi lebih baik. Justru seharusnya saya berpikir bagaimana caranya untuk menyelesaikan masalah yang sedang menimpa saya dan harus mencari solusi atas apa yang sudah saya jalankan.

Terima kasih Bapak dan Ibu yang sudah mendampingi saya dan juga untuk teman-teman semua.

By : Karol – Bajawa – NTT

Belajar Bersyukur 

Sebelumnya saya tidak pernah berpikir kalau saya bisa sekolah di Yayasan Prima Unggul -Jakarta. Tetapi setelah mendengar informasi kalau saya sekolah di YPU saya sangat sedih karena harus meninggalkan kedua orang tua saya dan orang-orang yang saya sayangi, tetapi saya berpikir kembali kalau saya bersekolah di YPU saya bisa meringankan beban keluarga saya, karena saya berasal dari keluarga sederhana dan ekonomi yang terbatas.

Motivasi saya sekolah di YPU, saya ingin meringankan beban orang tua saya dan membuat mereka bangga dengan saya dan harus bisa meraih cita-cita saya. Pasti Kak Eka senang karena kami dapat bersekolah di YPU untuk sama-sama berjuang. Saya bangga dengan perjuangan Kak Eka yang telah membawa kami sekolah di YPU.

Saya sangat bersyukur karena menurut saya YPU adalah tempat yang tepat buat saya. Saya mulai belajar dan berproses dimana pola pikir saya diubah untuk menjadi pribadi yang lebih mandiri dan karakter saya yang malas-malasan dibenahi supaya menjadi lebih baik.

Hal-hal yang saya pelajari di YPU adalah bagaimana saya berbicara lebih sopan kepada sesama, jujur dan melakukan sesuatu dengan tulus.YPU juga mengajarkan saya untuk selalu bersyukur walaupun dalam kekurangan sekalipun.

Salam

Novi – Maumere, Flores

PERJUANGANKU 

Orang tua pergi merantau sejak aku berumur enam tahun. Setelah berpisah dari orangtua aku terpaksa harus tinggal di Panti Asuhan karena faktor ekonomi yang kurang memadai. Di lingkungan yang baru, aku berubah menjadi pribadi yang sangat susah berkembang. Hampir setiap hari aku di bina dan diberi hukuman sampai aku harus tidur di luar rumah.

Aku Iren, berasal dari Manggarai, Flores – NTT. 
saat ini aku bersekolah di Yayasan Prima Unggul-Jakarta. Aku sangat bersyukur bersekolah di YPU.
Aku diajarkan untuk menjadi anak yang mandiri dan bisa berguna bagi orang lain. Aku sadar dan mengerti bahwa, lingkungan yang positif, akan mempengaruhi kita untuk tetap bertindak positif.
Kesempatan demi kesempatan aku hadapi walaupun terkadang aku lalaikan. Tapi aku tidak berhenti sampai disitu, aku terus berjuang dan berlatih. Aku yakin bahwa hasil tidak akan berbohong.
Sekarang aku diberi kesempatan untuk mengembangkan diri di bagian seni Musik.

Aku mempunyai impian yang besar ingin mengembangkan daerahku. Maka dari itu aku termotivasi untuk terus belajar banyak hal di YPU. Dan pesanku untuk teman -teman didaerah, sadarilah bahwa perubahan diri memerlukan proses dan perjuangan yang panjang.

Terima kasih sekolahku, Yayasan Prima Unggul

Salam

Iren – Manggarai Flores

MENGGAPAI IMPIAN

Keributan, perkelahian dan suara yang keras…
Itulah yang setiap hari kudengar dalam keluargaku. Aku bahkan sempat berpikir bahwa rumahku seperti kebun binatang. Bapakku seorang pemabuk sehingga setiap kali bapak pulang, dia selalu marah – marah dan selalu mengeluarkan kata – kata kotor. Lingkungan rumah yang seperti itulah, yang menghambat potensiku dan bahkan aku tidak pernah berani untuk mempunyai cita – cita. Rasanya aku ingin keluar, pergi jauh dari rumah. Tapi apalah daya, aku hanyalah seorang anak kecil yang tidak bisa melakukan apapun.
Setelah lulus SMP, aku mengambil sebuah keputusan untuk bersekolah di Jakarta melalui tawaran seorang Ibu. Tujuanku ingin menjadi seorang anak yang mandiri dan berguna bagi semua orang terutama Mama, Kakak dan adik ku.
Tiga bulan sudah aku bersekolah di Jakarta. Belajar di sebuah sekolah kehidupan” Yayasan Prima Unggul.” Orang – orang sering menyebutnya dengan sebutan YPU. Aku memulai hidup baru, seolah – olah terlahir kembali menjadi manusia baru. Aman rasanya jauh dari keributan, perkelahian dan kata – kata kotor. Aku mulai beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan karakter yang baru.
Suatu saat nanti, aku ingin membuat orangtuaku bangga dan bisa memperbaiki perekonomian keluargaku (setidaknya mengurangi percecokan orangtuaku). Melalui impianku ini, tentunya aku tidak hanya berdiam diri saja,aku harus selalu berjuang dengan melawan semua kekurangan ku selama ini.

Nama : Rachel
ASAL : Tanjung Balai – Sumut

TRANSFORMASI DIRIKU

Nama saya Ina, saya berasal dari Flores-Nusa Tenggara Timur. Olanage adalah sebuah kampung kecil yang menjadi tempat dimana saya dan ketiga saudara saya bertumbuh dan menikmati kasih sayang yang berlimpah dari kedua orang tua. Sebagai anak pertama saya di didik oleh kedua orangtua untuk menjadi seorang kakak yang baik dan bisa mengayomi adik-adik.
Kedua orangtua saya bekerja sebagai seorang petani di kebun . Terkadang, saya dan ketiga saudara saya membantu bapak dan mama di kebun. Sampai pada suatu ketika kesempatan untuk bersekolah di Jakarta tepatnya di Yayasan Prima Unggul datang menghampiri saya.
Tak terasa tiga tahun berlalu dengan begitu cepat saat ini saya sudah menjadi alumni dari Yayasan Prima Unggul. Suasana senang saya rasakan, jatuh bangun dalam proses belajar baik teori di kelas maupun praktek lapanganpun sudah saya alami.
Berawal dari magang di Optik Serpong mental sayapun teruji. Saya adalah siswi baru di YPU dan masih seumur jagung mengenal kota metropolitan ini harus berusaha untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan sekitar saya. Transportasi umum adalah teman setia yang mendampingi saya dalam proses magang ini. Bersyukur karena saya tidak hanya sendiri tapi juga didampingi oleh satu kakak kelas yang juga mendapatkan kesempatan yang sama seperti saya.
Sewaktu di kampung saya adaah seorang anak yang gengsi jika diminta bapak dan mama untuk berjualan. Tapi, di optik saya diajarkan untuk bisa berjualan dan bukan hanya itu saya juga diajarkan untuk bagaimana caranya menghadapi pelanggan yang mempunyai tipenya masing-masing.
Suatu ketika, saat sedang melayani pelanggan , saya diminta untuk mengambil lensa kacamata oleh pemilik toko. Apa yang terjadi ? Saya salah dalam mengambil lensanya, dengan cepat pemilik optik langsung menegur saya untuk tidak melakukan hal yang sama lagi.

Ini memang hal pertama buat saya apalagi ditegur didepan orang lain. Sontak air mata saya pun tak dapat diendung lagi. Jika dikatakan malu, itu sudah pasti. Tapi itu adalah proses yang harus saya jalani.

Setelah kembali dari magang, lagi-lagi saya diberikan kesempatan dan kesempatan kali ini lebih besar tanggung jawabnya dibanding yang sebelumnya. Sebelumnya saya magang di optik orang tapi kali ini saya harus mengelola optik sendiri. Optik ini menjadi salah satu unit usaha di Yayasan Prima Unggul. Takut ,minder itu sudah pasti. Tapi ini kesempatan untuk belajar. Mumpung masih muda saya harus berani mengambil resiko dan terus bereksperimen.
Dari tanggung jawab ini ,saya di beri kesempatan untuk mengikuti paduan suara dan menari di Singapore dan belajar tentang budaya di Thailand. Saya sempat tidak percaya karena saya bukanlah seorang penari baik hanya itu saya juga mendapat lagi kesempatan untuk mengikuti pertukaran pelajar di Belanda .
Ketika mendengar bahwa saya akan mengikuti pertukaran pelajar di belanda, saya benar-benar kaget dan tidak habis pikir. Saya bertanya dalam hati, sebenarnya apa sih rencana Tuhan di dalam hidup saya? Sehingga apa yang tidak terpikirkan oleh sayapun terjadi didalamnya. Saya yakin hidup adalah sebuah perjuangan yang akan selalu dihiasi oleh kesempatan dan juga kegagalan di dalamnya.
Saya mempunyai banyak impian dan salah satunya adalah ;
“ Menghapus airmata orangtua dengan saputangan keberhasilan.”

Akilina Elu Uda
Boawae -Flores,NTT

RUMAHKU, RUMAH KEBERHASILAN

Nama saya Karmel, saya anak ke 2 dari dua bersaudara, saya berasal dari Flores-NTT. Saya terlahir dari keluarga sederhana, orang tua saya bekerja sebagai petani. Sejak tamat SMP, orang tua saya sudah tidak mampu untuk membiayai sekolah saya ke jenjang berikutnya. Apalagi ketika saya melihat kondisi Ibu saya yang sedang dalam keadaan sakit, semua biaya sudah dikeluarkan untuk biaya kesembuhan ibu . Saya sempat putus asa dan patah semangat, saya merasa bahwa sia-sia saja kalau saya hidup. Saya tidak mau menyalahkan kedua orang tua hanya karena tidak bisa membiayai sekolah saya. Yang saya pikirkan adalah bagaimana cara supaya saya bisa melanjutkan sekolah.
Puji Tuhan, akhirnya lewat Ibu kepala sekolah saya bisa melanjutkan sekolah dan mengembangkan potensi diri saya, yaitu di Sekolah Yayasan Prima Unggul. Awal berada di YPU saya sangat bingung mau melakukan kegiatan apa, melihat kakak-kakak kelas yang sangat aktif dalam melakukan semua kegiatan yang ada di YPU. kakak-kakaknya mengajak saya untuk ikut terlibat, saya sangat senang, saya melakukan semua kegiatan dengan tulus, dan totalitas. YPU Mengajarkan saya banyak hal mulai dari mencuci piring, menyapu, mengepel, memasak, dan berjualan keliling. Banyak perubahan yang saya alami biasanya saya keras kepala, masa bodoh, cerewet, suka pukul orang, dan melawan orang tua. YPU, benar-benar mengubah karakter saya yang kurang baik menjadi lebih baik lagi. Menjadi anak yang mandiri dan berdampak bagi orang lain.
Sebulan berada di YPU, saya mendapatkan kesempatan untuk belajar di sekretariat YPU, humas, pendidikan dan IT YPU. saya sangat senang dan bersyukur atas apa yang saya dapatkan. Kesempatan lain juga saya dapatkan seperti bernyanyi di berbagai event,dan ikut drama musikal YPU. Saya selalu belajar rendah hati dengan apa yang saya dapatkan.
Impian saya adalah menjadi seorang designer grafik dan membuka Taman kanak-kanak di daerah saya. Terima kasih untuk semua orang yang telah mendukung saya dalam proses pengembangan diri saya . Saya sangat bersyukur bisa mendapatkan kesempatan untuk belajar di Yayasan Prima Ungul dan bisa tinggal bersama pejuang-pejuang hebat yang terus berjuang untuk menggapai cita-cita dan saling mendukung satu sama lain.

Karmel, Boawae, Nagekeo, Flores, NTT

“Kesempatan”

Saya Marna, saat ini berusia 20 tahun. Saya anak ke 5 dari 9 bersaudara. berasal dari keluarga yang sangat sederhana. Kedua orangtua saya adalah seorang petani.
Setelah selesai tamat SD, saya sempat bingung mau melanjutkan sekolah dimana, karena orang tua saya tidak sanggup untuk membiayai pendidikan saya ke SMP.
Karna keadaan itu saya sangat sedih sampai pada suatu ketika, paman datang berkunjung dan meminta saya untuk tinggal bersamanya. Tanpa berpikir panjang, saya langsung menerima tawaran dari paman. Paman menyekolahkan saya sampai tamat SMP. Saya sangat bersyukur karena orang tua sayapun tidak hanya berdiam saja. Mereka juga membantu paman untuk umembiayai sekolah saya.

Setelah lulus SMP, kebingungan yang sama kembali menghantui saya. Saya bingung mau melanjutkan sekolah dimana. Ketika Yayasan prima Unggul datang bersosialisi di Sekolah saya, saya sangat senang karena lagi-lagi kesempatan dibukakan untuk saya. Saya sangat terinspirasi dengan teman-teman dari YPU yang sharing tentang kisah hidup mereka. Ketika saya hendak mendaftar, formulir yang disediakan telah habis. Dan hanya tersedia di tahun berikutnya.

“Marna kamu akan ikut bersama teman-teman yang lain, melanjutkan sekolah di Yayasan Prima Unggul, jadi kamu harus mempersiapkan diri termaksud segala yang akan kamu perlukan” pesan dari ibu kepala sekolah melalui kakak saya yang bekerja di asrama sekolah. Mendengar berita bahwa saya akan melanjutkan sekolah di YPU, keluarga sangat senang karena akan terbantu. Ketika hendak bergabung dengan tema-teman yang lain, rasa takut dan minder mulai muncul dalam diri saya. Teman-teman saya termasuk anak-anak yang terbaik di SMP saya. Saya mencoba untuk mundur, namun saya berpikir lagi, “jika saya menolak kesempatan yang diberikan, saya pasti putus sekolah.”

Awal bersekolah di YPU, saya anak yang sangat pemalu. Saya takut takut untuk beradaptasi dengan teman-teman yang lain. Mereka begitu aktif dengan kegiatan mereka masing-masing. Karena saya suka memasak, dengan segala keterbatasan saya menjalani semua kegiatan dengan tekun. Awalnya hanya mencuci piring dan membersihkan dapur, tetapi semuanya saya lakukan dengan tekun. Melihat ketekunan saya Bapak dan Ibu memberikan saya kesempatan untuk bergabung dalam Tim Catering YPU.
Saya sangat bersyukur bersekolah di YPU, selain bersekolah saya juga diajarkan untuk berpraktek. Selain itu juga saya banyak diberikan kesempatan karena melihat semua yang saya lakukan dengan sepenuh hati, dan tekun. Kesempatannya seperti belajar public speaking, bahasa inggris, menari, menyanyi, dan mengikuti drama musikal menggapai anggan. Puji Tuhan saat ini saya di berikan kesempatan menjadi koordinotor catering YPU. Semua kegiatan yang saya dapatkan, saya mempunyai mimpi untuk membangun keluarga sayamenjadi keluarga yang harmonis dan membuka usaha restoran di daerah saya.

Nama: Marna
Asal :Boawae, Flores NTT

BINTANG YANG TELAH HILANG KINI DATANG KEMBALI

Sosok seorang ibu yang melahirkan dan menjaga, merawat serta mendidik, membuat anak – anak mereka menjadi pribadi yang berkualitas, dimana anak – anaknya akan nyaman saat berada di pangkuan ibunya, akan tertidur pulas saat berada di pelukannya. Semua anak pasti menginginkan hal tersebut dan hal ini yang tak pernah aku rasakan selama 16 tahun aku hidup di dunia ini. Saat aku di lahirkan ke dunia ini, sosok yang melahirkanku malah beralih dari dunia ini. Aku tak tahu apa – apa tentang hal ini, karena aku masih seorang bayi mungil yang hanya bisa menangis, namun belum tentu menangis karena sedih.

“ Buang saja anak ini, tak ada gunanya juga ia hidup.” Terpuruknya ayahku saat sosok yang ia cintai harus pergi selamanya demi anaknya, memaksanya untuk mengatakan hal tersebut. Tak bertahan lama, ia menyusul mama. Aku tak mengerti atas semuanya. Namun yang aku tahu bahwa kejadian ini membekas di memoriku hingga saat ini. Aku merasa mungkin aku adalah pembawa petaka bagi kelurgaku sejak kedatanganku ke dunia ini.

Aku di rawat oleh tante dan omku. Aku mempunyai 2 kakak kandung, tapi aku tak pernah bertemu dengan meraka di karenakan sejak kepergian ayah kami di asuh oleh orang berbeda. Hal ini juga semakin membuatku menjadi pribadi yang tertutup, dan pendiam. Aku hanya bisa menangis dalam kesepianku sendiri.

Hingga aku tamat SD, aku di anjurkan untuk meneruskan pendidikanku di Jakarta, YPU tepatnya. Dengan kepolosanku, aku pun berangkat dengan pesawat sebagai alat transportasinya. Kekagumanku melihat keindahan dan kekayaan indonesia dari atas membuat aku hatiku miris dan berfikir “kenapa hingga sekarang indonesia masih menjadi negara berkembang?”Aku sebagai generasi muda merasa memiliki tanggung jawab terhadap negeriku tercinta ini.

Saat pertama kali menginjakkan kaki di Yayasan Prima Unggul, perasaanku saat itu ada kebahagiaan, kebinggunan, dan sedih campur aduk menjadi satu. Sri, ya itu kakakku. Kakak pertamaku yang tak pernah ku kenal sebelumnya. Namun, saat ia memanggilku, aku jadi tau bahwa ia mengenalku. Ia menangis sendu saat mendekapku dalam pelukkannya, aku yang awalnya biasa saja, kini merasakan harunya dan aura seorang kakak seakan masuk ke dalam tubuhku. Air mata yang tak ku undang malah datang secara tiba – tiba dan membasahi wajahku.

Kini aku sudah remaja. Semua masa laluku selalu menemaniku sebagai pelajaran kehidupan untukku yang sekarang sedang merajut mimpiku di YPU bersama teman – temanku. Kini aku tak pernah merasa kesepian. Aku telah berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik dari aku yang dulu. Sifat – sifat yang menjadi penghambat masa depanku mulai perlahan – lahanku hilangkan.
Dengan bimbingan dan pendampingan dari para pengurus di YPU ini aku yakin aku bisa membuktikan bahwa aku bukanlah pembawa petaka bagi siapapun. Aku akan membat mama dan papa bisa tersenyum di atas sana saat melihatku bahagia kelak.Thanks God, You always stay with me and always be my friends in my live.

There – Ende,NTT

                                      MY DIAMOND LIFE
Satu,dua,tiga,dan empat aku mencoba tuk menghitung setiap motor yang berjalan dia atas kerikil halus tepat didepan halaman rumahku. Berhayal suatu saat nanti aku bisa membelikan ayah sebuah motor yang akan bisa digunakannya sebagai alat transportasi ke kebun setiap hari.
Disaat mentari menyapa dengan hangat dan memancarkan kecantikannya, disaat itu pula kedua orang tuaku mempersiapkan segala sesuatu yang akan mereka bawa bersama dengan mereka ke kebun nanti. Setiap jam sembilan pagi ayah dan ibu berangkat ke kebun dan mereka akan baru kembali ke rumah dengan membawa panenan umbi-umbian di jam tujuh malam.
Saat itu, sebagai anak yang masih berusia 5 tahun , saya berpikir bahwa kami akan segera kaya dan mempunyai banya uang karena setiap hari ayah dan ibu tidak pernah absent untuk ke kebun. Ternyata apa yang saya pikirkan tidak seratus persen benar karena memang kedua orangtuaku mempunyai uang tapi tak bisa membuat kami kaya. Semua uang yang telah didapatkan dipakai untuk melengkapi kebutuhan harian dan membayar hutang kepada tetangga.
Karena kondisi keuangan keluarga yang semakin hari semakin berkurang, saya terpaksa harus dititpkan di rumah tante Ima, di ibu kota kabupaten. Tante Ima merupakan adik bungsu dari mama yang sangat dekat dengan mama sejak mereka masih bersama. Selama 7 tahun hidup bersama tante membuat saya sangat merindukan kedua orangtua saya apalagi saya jarang untuk berlibur ke rumah ayah dan ibu.
Oleh karena beberapa pertimbangan dari tante dan ibu, akhirnya saya kembali tinggal bersama ayah dan ibu di kampung halaman saya. Belum berapa lama di kampung, saya kembali harus berpisah dengan kedua orang tua untuk yang kedua kalinya. Saya mendapatkan kesempatan dari Yayasan Prima Unggul melalui kedatangan kakak yang saat itu sedang berlibur dan melakukan kegiatan di Ende-Ndona.
Ketika pertama kali menginjakan kaki saya di bandara, jantung berdebar begitu kencang dan air mata sungguh tak dapat terbendung lagi. Bahagia karena sebentar lagi saya akan menginjakan kaki saya di kota metropolitan dan saya bisa bertemu dengan banyak artis yang selama ini hanya bisa saya lihat melalui tv milik tetangga. Di sisi lain, saya sangat sedih karena harus meninggalkan kedua orang tua dan tema-teman saya juga tanta yang selalu memberikan saya uang jajan setiap kali hendak berangkat ke sekolah.
Belum pernah terbayangkan sebelumnya bahwa saya akan tinggal di panti asuhan. karena selama saya di kampung pandangan tentang panti asuhan sangatlah buruk. Tempat anak-anak yang tidak mempunyai orang tua, cacat secara fisik, malas bekerja karena selalu diberikan bantuan oleh para donatur dan tentunya adalah anak-anak yang MADESUM alias masa depan suram. Tapi,ini adalah kenyataan yang harus saya terima saat ini bahwa saya tinggal di sebuah panti asuhan yang bernama Yayasan Keluarga Kasih dan saya bersekolah di yayasan Prima Unggul.
Awalnya saya berpikir bahwa YPU-YKK sama seperti panti asuhan lain yang pernah saya ketahui sebelumnya di kampung saya . Ternyata, saya salah besar karena tempat ini sangatlah berbeda. Saya harus cepat beradaptasi dengan teman-teman yang sudah terlebih dahulu bersekolah dan tinggal di YPU. Sistematis kerja yang diterapkan dan dibentuk sangatlah berbeda dengan apa yang saya lakukan sewaktu masih di kampung halaman.
Ketulusan,tujuan yang jelas, cara yang cerdas,tindakan nyata serta totalitas sangatlah dituntut dalam melakukan segala sesuatu, mulai dari hal-hal yang kecil seperti mencuci piring. Sewaktu saya di kampung, untuk mencuci piring dan mecuci baju saya sendiri saja sangatlah susah dan terkadang saya meminta upah setelah melakukan pekerjaan rumah.
Saya sangat bersyukur karena sebelum saya jatuh lebih dalam ke lubang yang bisa membuat saya kehilangan segalanya termasuk mimpi,saya sudah terlebih dahulu ditarik dan dibentuk melalui berbagai kegiatan pengembangan diri yang ada di YPU. Saya yang dulu tak berani bermimpi, kini saya bisa berani tuk bermimpi dan saya juga bersyukur karena orang tua asuh serta teman-teman sungguh sangat mendukung saya dalam proses menggapai semua impaian saya.
Terima kasih tuhan akan kesempatan yang saat ini saya dapatkan dan semua talenta yang
Telah engkau karuniakan padaku untuk terus saya kembangkan dan natinya bisa berguna bagi orang lain juga. Kehidupan yang saya alami di YPU sangat berarti bagi hidup saya dalam meraih My Diamond Life .

Damian
Boawae – NTT

“Di Balik Kegelapan Selalu Ada Terang” 

Jika ingin mengubah nasib pilihan satunya-satunya adalah “merantau” memang itu tidak salah dan tidak sepenuhnya benar. Semua anggapan orang -orang di kampungku bahwa hidup merantau pasti banyak uang kerjanya santai dan mampu membuat seseorang menjadi kaya. Itu semua hanya mitos belaka, nyatanya apa yang aku dan sebelas saudaraku rasakan tak seindah itu. Jika kedua orangtuaku tak rajin bekerja mungkin kami bisa puasa berhari-hari. Memang kehidupan keluargaku di Malaysia cukup untuk memenuhi kehidupan kami sekeluarga. Sedihnya kami tak bisa bersekolah karena akan berurusan dengan perijinan dan surat -surat lain yang tak kumengerti. Akhirnya kami sempat menunda sekolah setahun, kedua orangtuaku memutuskan untuk kembali ke Indonesia di Lembata.
Aku belum menyelesaikan sekolah hingga bangku kelas 6 SD, Mama……………… telah pergi meninggalkan kami semua, mungkin Tuhan lebih sayang pada mama. Semuanya terjadi tak ada yang menduga, mama dan ayah menaiki motor berdua dan terjadilah kecelakaan itu entah apa yang terjadi hingga mama terjatuh dan ayah tak menyadarinya. Kesedihanku semakin bertambah disaat yang bersamaan aku harus kehilangan ayah. Hari itu juga, ayah diringkus di penjara karena dituduh oleh keluarga mama, sebagai penyebab kematian mama. Aku, kakak ku, dan kelima adiku hanya bisa menangis dan terus menangis, kedua abangku tetap tinggal di Malaysia saat kami pulang ke Indonesia dan mereka tak tahu apa yang terjadi. Sehingga aku dan kakak yang diatasku harus bertanggung jawab terhadap ke- 5 adiku yang masih kecil. Biasanya kami bergantung kepada ayah dan mama yang tak mengenal cangkul terpaksa harus bisa menanam apapun yang bisa ditanam di pekarangan rumah . Beberapa dari adik-adiku harus terpisah-pisah agar bisa melanjutkan hidup. Banyak kenakalan yang Kakak lakukan demi kelangsungan hidup kami. Sekolah lebih sering bolos dari pada belajar dikelas, nakal, bandel sudah menjadi makanan sehari-hari. Kakaku pernah stres bahkan hampir gila karena buntu dan bingung menafkahi kami bertiga.
Hingga suatu saat aku dan dua kakakku ditawarkan untuk tinggal di panti asuhan. Beberapa bulan kemudian kami ditawarkan oleh Ibu pengasuh untuk bersekolah di Jakarta. Selama di YPU banyak hal yang terus kuperjuangkan untuk mengubah kepribadianku, kakakku yang dulunya nakal, bandel, sering berantem berusaha untuk mengubah sifatnya, dan mengolah potensi diri yang ada dalam dirinya menjadi seorang motivator. Aku dengan perjuanganku mengubah karakterku yang emosian, keras kepala, juga kekasaranku mampu ku ubah kearah yang positif, perlahan aku bisa mengendalikannya. Keras kepalaku menjadikan aku pribadi yang tak mudah dipengaruhi, kekasaranku ku ubah menjadi sikap tegas dengan tanggungjawabku di bagian logistik. Aku berusaha menjaga kepercayaan yang aku pertahankan dari awal tanggungjawab ini diberikan kepadaku hingga sekarang aku berusaha untuk tidak menodainya, meskipun godaan itu kerap kali datang. Entah seleksi alam yang bekerja kakak ku akhirnya jatuh karena kesalahanya sendiri. Hanya akulah yang menjadi harapan satu-satunya untuk keluargaku. Saat ini aku di YayasanPrima Unggul, mimpiku sekembalinya dari YPU aku ingin mempersatukan keluargaku kembali. Aku ingin membalas kemiskinan keluargaku dengan kesuksesan .

By : Yuli
Asal : Lembata, NTT

“Kelegaan Sesudah Penderitaan”

Aku Eka,  berasal dari Maumere, daerah kecil di pulau Flores. Aku berasal dari keluarga sederhana, kedua orangtuaku hanya bekerja sebagai Petani. Aku dilahirkan didunia ini dengan berat hanya 800 gr, sebesar botol aqua, jari-jariku sebesar lidi, beberapa bagian tubuhku belum tumbuh dengan sempurna. Kedua orangtuaku berusaha untuk menyelamatkan nyawaku. Ayahku bekerja kesana- kemari demi membiayai inkubator rumah pertamaku di dunia, selama 3 bulan hidupku hanya bergantung pada selang- selang yang melilit tubuhku Yah…..itulah aku
Waktu aku berumur 10 tahun, aku dan keluargaku mengalami suatu peristiwa yang membuatku trauma hingga hari ini. Kalau mengingat peristiwa ini, yang ingin kulakukan sebenarnya adalah berlari dan berteriak sekencang – kencangnya. Dengan segala kepolosanku , aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, para dekolektor menarik dengan paksa selembar surat yang ada di tangan ayahku. Sertifikat tanah, ya.. itu sertifikat tanah milik ayah, sertifikat ini diambil sebagai i pengganti hutang keluarga kami. Inilah yang membuatku sampai sekarang membenci keributan, pesta pora, dan perjudian. Aku merasa aku adalah korban dari semua itu,semua karena perbuatan Om adik dari Ayah, sebagai Kakak, Ayah yang harus membayar semua hutang Om , terkadang aku tak mengerti kenapa kedua orangtuaku begitu baik , Ayah melarang kami untuk membenci meskipun sudah menanggung malu dan penderitaan,sehingga keluarga kami jauh dan harus mulai dari nol lagi. Itulah alasan sebenarnya kenapa aku bisa sampai ditempat ini. Memang perjuangan untuk sampai di tempat ini pun tidak gampang bagiku, melewati berbagai tantangan . Tapi aku bersyukur berada di tempat ini, bisa bertemu dengan teman dan pengalaman serta semangat baru, yang membuatku bisa berkomunikasi dengan baik, walaupun dulu aku hanya sosok anak yang suka menangis. Diumurku yang sekarang ini aku ingin berbuat lebih, karena aku mulai memahami arti dari semua perjuangan yang kujalani hingga saat ini, aku bersyukur karena terlahir dari keluarga sederhana karena aku bisa belajar arti dari perjuangan, yang kini mengantarku kepada proses perkembangan diri dan pemulihan diri untuk memaafkan masa lalu dan menjadikannya sebagai motivasi hidup.
Kini aku sudah bisa mengedit foto dan video, mengenal apa itu Mobile Apss, Photoshop, Lightroom , dan Premiere dan beberapa aplikasi medsos yang Aku kuasai. Impianku sederhana Aku ingin mengembangkan passionku di bidang yang aku tekuni sekarang, setelah
sukses Aku ingin berbagi kepada teman – temanku yang berada di daerah. Dan kata motivasi yang selalu kutanamkan dalam diriku adalah “Siapapun orang yang kutemui dia adalah Guruku, Dimanapun aku berada itu adalah sekolahku”

Nama : Eka
Asal : Maumere, NTT

Aku dan Kesendirianku

Aku Sri gadis kecil yang kurus, ringkih berusia 7 tahun. Keadaan memaksaku untuk dewasa di usiaku yang masih kecil. Terkadang Aku merasa sendirian rasa sedih, benci, kecewa……. kenapa harus Aku yang menanggung semua ini, terkadang Aku belum menerima kepergian Mama meninggalkan kami semua. Ayah yang seharusnya menjadi tulang punggung keluarga harus terbaring di tempat tidur akibat penyakit TBC akut yang menggerogoti tubuhnya. Setelah kepergian Mama penyakit Ayah semakin parah hingga Aku harus membuat lubang buang air kecil di gubuk karena Ayah tak sanggup untuk berjalan . Selama Ayah sakit hampir tak ada keluarga yang peduli pada keluarga kecil kami cuma Om adik dari Bapak itupun hanya sekali- sekali saja hanya sekedar membawa biskuit dan beberapa kilo beras. Akhirnya setelah menderita 4 bulan kemudian Ayah menyusul Mama. Kala itu, Aku merasakan kabut pekat yang hitam mengelilingi duniaku, Aku tahu statusku sekarang adalah yatim piatu. Saat Aku merindukan Mama terasa sakit, semua terjadi gara- gara hukum adat, karena status Ayah yang memiliki 5 istri, dan parahnya lagi istri keempat Ayah adalah adik kandung Mama sendiri hingga kami diusir dari kampung dan tinggal di kebun. Sejak lahir Aku tidak pernah menginjakan kaki ke kampung. Aku baru merasakannya ketika hukum adat kembali berlaku setelah kedua orang tuaku tiada. Kami bertiga dipisah-pisahkan, Aku tinggal bersama Om dan Tante adik dari Ayah. Tinggal bersama Om dan Tante, Aku dipaksa untuk bekerja keras. Setiap hari sepulang sekolah Aku harus kekebun membantu Om dan Tante. Tak ada waktu untuk bermain, berbeda dengan kedua anak Om dan Tante tak pernah di suruh melakukan apapun meskipun itu hal yang sangat mudah. Hingga suatu hari Aku sudah bosan dengan setiap rutinitas, sebagai anak kecil Aku Aku juga ingin merasakan seperti kedua saudara tiriku. Sepulang sekolah Aku ikut bermain bersama Andri. Kegembiaraan sungguh Aku rasakan, Aku merasa bebas dan pertama kalinya Aku tertawa dan tersenyum sebahagia ini. Setelah puas satu permainan kami mengganti dengan jenis permainan yang lain hingga tak Aku sadari Matahari hampir terbenam dan semua pekerjaan rumah belum Aku kerjakan. Dalam hati Aku berpikir pasti Aku tidak akan dimarahi karena bermain bersama Andri.Dugganku melest jauh. Dalam perjalanan pulang kerumah kami berlari kecil dengan wajah merah padam Akibat bermain sanggu alu, lompat tali dan sejenisnya semua permainan tradisional. Aku dan Andri baru sampai didepan halam rumah Om sudah berdiri tegak dengan raut wajah bengis, dalam hati Aku sudah pasrah dan ketakutan apa yang akan terjadi. “Kau kesana Om menunjuk Andridengan sepotong kayu” teriakan Om membuatku kaget dan gemetaran , Sri kesini kau dengan langkah pasrah Aku mendekat kearah Om . Air mata mulai mengalir Aku menangis dalam diam tak berani bersuara suaraku tertahan di kerongkongan setiap kayu mendarat di tubuhku. Semua badanku terasa sakit dan perih saat mengenai tubuhku yang kurus. Tak hanya itu Aku disuruh Om mengambil air dari mata air yang jaraknya sekitar 5 km sekitar jam 10.00 malam. Setelah mengambil air Aku mengira hukuman sudah selesai ternyata salah besar, Om menyuruhku membakar pisang satu tandan dan makan sendirian hingga habis karena kekenyangan Aku berlari kebelakang rumah untuk muntah, melihat Aku Andri berusaha membantu unutuk menghabiskan pisang. Ahkirnya Andri jadi korban kemarahan Om Andri yang dipukuli. Tinggal bersama Om Tante serasa neraka bagiku. Ketika Aku jatuh sakit tak ada yang peduli, beruntung ada nenek Ibu dari Alm. Mama yang secara sembunyi merwat dan memberiku makan, saat ketahuan sama Tante Aku dimarah, dikatain anak haram, anak tak berguna. Kedua orangtuaku diungkit rasanya lebih sakit dibanding tamparan dan pukulan. Tak tahan Aku berteriak “ Mama kenapa Mama meninggalkan sekarang saya hidup seperti dineraka”. Mendengar teriakanku. Tante berlari membawa kayu dan menghantam pundaku berkali-kali hingga darah segar mengalir dari mulutku, kepalaku terasa ingin pecah dan pening, pandanganku agak buram , tapi Aku paksakan diri untuk keluar dari rumah tanpa tentu arah tujuanku kerumah saudara Mama. Hidupku mulai tertata di rumah Kak Tressya pundaku sudah sembuh bahkan Aku berniat untuk tinggal dan melanjutkan sekolah. Rencana itu belum terwujud Om dan Tante datang menjemputku. Kak Tressya tak bisa menghalangi karena Aku sudah menjadi anak angkat Tante dan Om. Setelah selesai SD . Om dan Tante membujuku untuk berhenti sekolah dengan iming-iming di berikan kebun dan Aku sendiri yang akan mengolahnya. Capek setiap hari harus pulang pergi kebun Aku memutuskan untuk tinggaldi kebun sendirian. Setelah hasil kebun mulai di panen ketidakadilan kembali terjadi Om dan Tante mengambil semuanya. Esoknya Aku memutuskan kepasar untuk sekedar mencuci mata setelah bebrapa tahun belakangan. Saat itu Aku bertemu seorang Pastor yang mengirimkanku untuk bersekolah di YPU. Sebelumnya Aku sempat tinggal beberapa tahun bersama beliau. Di Yayasan Prima Unggul Aku seperti terlahir kembali sikapku dari kampung terbiasa menyendiri, Aku tidak terlalu suka keramaian, sikap tingkah lakuku benar- benar di bentuk meskipun usiaku sudah bukan remaja lagi. Syukur yang tak pernah Aku pikirkan ketika Aku diberikan kesempatan untuk bersekolah kembali melalui ujian paket C, karena awalnya tujuanku hanya untuk belajar kursus keterampilan, setiap malam Aku begadang untuk belajar karena Aku tidak sempat mengenyam pendidikan di bangku SMP. Melihat hasratku untuk bersekolah Aku diberikan kesempatan untuk melanjutkan di tingkat SMA secara normal, saat itu umurku 18 tahun hingga selasai. Sekarang Aku Alumni Yayasan Prima Unggul, kegiatanku sehari selain megkoordinir koor juga memiliki usaha kantin untuk persiapan biaya kuliahku. Sekarang Aku bisa memandang masa depan dengan senyum bahagia. “Hidup mengajariku bahwa yang Aku dapatkan sekarang adalah buah dari kepahitan masa laluku, karena masa depan tidak bernoda”.

By: Sri -Ende Flores NTT

“Sekolah Kehidupan”

Ketika saya berusia 4 tahun, Mama terpaksa menitipkan saya ke panti asuhan karena Mama tak mampu membiayai saya lagi setelah berpisah dengan Ayah. Sejak saat itu, hingga saya berusia 15 tahun Mama belum pernah mengunjungi saya dan anehnya, saya juga hampir lupa kalau masih punya Mama. Sore itu, saya sedang berkemas pakaian di koper karena besok pagi akan berangkat ke Jakarta untuk bersekolah di Yayasan Prima Unggul. Tiba-tiba saya di panggil Suster kalau Ayah saya datang untuk bertemu saya. Ketika melihat saya, Ayah menangis sambil memangku saya hanya terdiam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun dalam hati kok bisa Ayah datang di saat saya mau berangkat ke Jakarta. Ayah kelihatan agak kurusan dengan balutan seragam hijau coklatnya berbeda di foto keluarga ketika saya masih bayi. Wajah Ayah terlihat sangat sedih dan mungkin menyesal . Tak lama setelah Ayah, Mama juga datang setelah diberi kabar oleh suster kalau saya akan ke Jakarta. Ketika melihat Ayah, Mama hanya diam seolah menganggap Ayah tidak ada, dan untunglah mereka tidak bertengkar seperti dulu lagi, tapi saya merasakan atmosfer ketegangan dan agak kaku berutung suster segera mencairkan suasana. Tak lama setelah itu Ayah pamit dan saat itulah menjadi kali terahkir saya bertemu Ayah . Setelah kurang lebih 2 tahun saya bersekolah di Jakarta saya mendengar kabar dari suster Ayah sudah meninggal saya baru menyadari mungkin perpisahan saya dengan Ayah.
Selama bersekolah di YPU banyak perjuangan yang tidak sedikit untuk mengubah kepribadian saya, karena sudah terbiasa tinggal di panti saya mudah beradaptasi dan berusaha mengembangkan talenta saya. Ketika saya menghadapi suatu masalah satu motivasi saya ketika saya mengingat kembali apa komitmen saya sebelum melangkahkan kaki ke Jakarta bahwa” Ini adalah tempat yang baik untuk mengembangakan diri saya dan saya membayangkan banyak anak di Merauke yang memiliki nasib yang sama seperti saya, sedangkan saya sudah berada di tempat yang tepat untuk mengubah takdir hidup dari kemiskinan.
Saya ingat 3 bulan saya di YPU kesempatan pertama yang saya dapatkan ketika perfoms di event Internasional pada pembukaan APEC Unthinkableweek di Bali pada tahun 2013. Hingga kesempatan kedua dan ketiga terus mengalir dan moment yang tidak akan pernah saya lupakan ketika saya mengikuti program Student Exchange di Belanda selam 2 minggu dan Choir lagu dan tarian tradisional di Singapore tahun 2017 kemarin . Kegiatan saya sekarang di YPU mengkoordidnir program Internet Student Exchange via Skype. Semua yang sudah saya capai berkat spirit bahwa” Tua pasti, Dewasa adalah Pilihan”. Mimpi saya sederhana saya ingin memiliki sekolah di Merauke dengan sistem Pendidikan yang sama seperti di YPU.


By: Irma – Merauke, Papua

”Touching the Snow’

Terlahir dari keluarga yang cukup mampu, membuatku menjadi anak yang manja. Sejak lahir hingga umur 9 tahun Aku tinggal bersama Papa dan Mama di Manado, Sulawesi Utara. Awalnya keluarga kami sangat bahagia. Semuanya berubah ketika Mama mengandung adik laki-laki. Papa sangat marah karena Papa tidak menginginkan anak lagi, hingga berniat untuk melenyapkan Adiku dan tubuh Mama adalah sasaran empuk dipukuli, ditendang . Tiada hari tanpa ribut sikap Papa semakin beringas tiap hari pulang malam dengan keadaan mabuk, semuanya terjadi hingga suatu hari puncaknya. Malam itu, Papa mengusir kami bertiga masih teringat di benaku saat Papa melempar foto keluarga kami Mama berusaha menghalangi akibatnya Mama yang jadi sasaran empuk Papa wajah Mama biru lebam hampir semua tubuh Mama memar , Aku dan adiku hanya bisa nangis ketakutan menyaksikan Papa melampiaskan amarahnya, semua perabotan di banting Papa . Malam itu juga kami bertiga pergi dari rumah kerumah Opung di Pematang Siantar, Sumatera Utara. Semuanya berubah sejak Mama berpisah sama Papa ekonomi keluarga kami semakin menurun, karena hanya Mamalah tulang punggung keluarga kecil kami. Hari berganti hari perekonomian kami semakin parah untuk makan sehari- hari saja susah sedangkan Aku harus melanjutkan sekolah ke tingkat SMP, butuh biaya yang banyak , penghasilan Mama tidak seberapa, belum lagi biaya sekolah adiku tambah beratlah beban Mama. Aku menyadari jika Aku tetap bertahan untuk tinggal bersama Mama mungkin Aku tidak pernah duduk di bangku sekolah. Akhirnya Aku memutuskan untuk menerima tawaran dari seorang Oma untuk bersekolah di YPU.
Awalku bersekolah di YPU, Aku merasa teman-teman yang ada di YPU ini berbeda dari sekolah yang dulu. Tapi Aku senang bisa akrab dengan teman-teman yang ada di YPU yang asalnya dari berbagai daerah di Indonesia. Banyak hal yang kurang dalam diriku,Sifat manjaku masih terbawa , sombong, cuek, malas menjadi predikat didriku yang sulit ku ubah. Perlahan tapi pasti Aku mulai mengikis satu persatu sifat jeleku, dan akhirnya Aku bisa bisa meskipun tidak seratus persen tapi Aku berjuang setiap hari untuk mengubah pribadiku menjadi lebih baik, saat ini Aku bisa mandiri dan sedang berproses untuk menjadi seorang yang berdampak. Banyak sekali pengalaman yang Aku dapatkan selama bersekolah di YPU. Diantaranya sering mengikuti paduan suara dan menari diberbagai Event, dari yang penontonnya bisa dihitung belasan sampai 1.000 orang penonton sudah pernah kualami. Event yang paling mengesankan ketika Aku menjadi salah satu pemeran utama Drama Musikal Merajut Pertiwi Aku memerankan tokoh Grace, anak yang tetap ceria dan berusaha membahagiakan Mamanya peran ini memang sulit bagiku karena Aku harus menjadi anak yang ceria mesikpun melihat sendiri Mamanya dipukuli Papa versi drama. Sekarang kemampuan Bahasa Inggrisku pun jauh lebih berkembang. Satu mimpiku bisa kuliah di luar negeri satu hal yang menjadi motivasiku adalah Mama dengan Impian sederhananya . “Mama sering bilang bahwa ia ingin sekali menyentuh salju”. Dan Impian terbesarku “TO MAKE MY FAMILY BECOME A GOOD FAMILY” dan mewujudkan Impian Mama. Ini yang selalu Aku yakini bahwa “TOMORROW WILL BE BETER” .

By: Patris – Manado, Sulawesi Utara

SANG BIRU LANGITKU

Cahaya yang terpancar dari kedua bola matanya membuat mama, aku dan ke enam saudaraku, begitu tenang saat berada di sampingnya. Beliau mengajarkan aku untuk selalu bersyukur dalam menjalani kehidupan yang begitu keras, walupun didalam keterbatasan. Fisik maupun ekonomi. Hal yang terpenting adalah kita tidak boleh mempunyai keterbatasan didalam hati kita masing-masing dalam segala hal.

Tinggi dan gondrong serta memiliki kedua bola mata berwarna biru langit , seakan meyakinkanku bahwa beliau adalah pria yang paling sempurna dimataku. Beliau adalah ayahku. Sosok yanga sangat aku banggakan. Ayah memendam sebuah perasaan yang terkadang tak pernah aku pahami. Namun, dari kedua bola matanya aku tahu bahwa beliau mempunyai kisah yang begitu kelam di masa lalunya.

Pertikaian yang terjadi antara kedua manusia yang saling mencintai dan oleh karena satu dan lain hal membuat pasangan tersebut terpaksa harus berpisah dan menghasilkan luka yang sungguh mendalam. Ayahku mengalami masalah dengan penglihatannya. Matanya berubah jadi biru langit saat beliau hendak membuka matanya di pagi setelah terjadinya kesalahpahaman yang menimbulkan pertikaian itu. Semua terasa berat dan begitu panas. Perlahan ayah mencoba untuk membuka matanya dan miris. Yang terlihat hanyalah cahaya putih yang begitu menyilaukan. Ayahku mengalami setengah kebutaan. Beliau tak bisa melihat dengan sangat jelas. Semuanya terlihat berbayang.

Aku mencoba untuk mencari akar dari semua yang telah terjadi pada ayah di masa lalu. Tapi, semua bak digenggam samudra dan dilemparkan kedalam segitiga bermuda. Aku tak akan mengetahuinya jika bukan ayah sendiri yang menceritakan. Terkadang aku harus menelan rasa malu karena ejekan dari teman-teman tentang ayah, aku tak peduli. Beliau adalah ayahku. Apapun fisiknya beliau akan tetap menjadi ayahku.
Saat aku berusia 9 tahun, ayah menceritakan semuanya padakku. Percampuran antara air jahe dan cabe yang dituangkan ke mata ayah oleh sang pujaan hatinya dululah yang membuat matanya berubah menjadi biru terang. Mama adalah istri kedua ayah.

Ayah memang tak bisa melihat dengan jalas. Tapi, apa yang dilakukan oleh manusia normal bisa dilakukan oleh ayah. Ayah adalah seorang pejuang. Sama sepertiku ayah sangat mencintai dunia seni. Dengan secangkir kopi ditangan ayah akan selalu menyenandungkan lagu-lagu kesukaannya. Jari-jemarinya begitu lihai dalam memainkan gitar tua kesayangannya.

Kecintaannya terhadap seni, membuat orang begitu nyaman saat bebicara dengan ayah. Ayah selalu membantu mengiringi musik saat latihan paduan suara di kampung. Ayah adalah sosok yang dikagumi , karena dengan keterbatasannya beliau masih bisa berdampak bagi orang lain. Terima kasih karena telah menjadi sang inspirator ayah. Aku sangat menyayangimu ayah, dari sekarang dan sampai selamanya.

Namaku Tasya. Saat ini, aku bersekolah di Yayasan Prima Unggul. Aku sangat bersyukur atas kesempatan yang diberikan kepadaku saat ini. Aku banyak mengalami perubahan, mulai dari pengetahuan , karakter serta keterampilanku. Ayahku adalah seorang pejuang. Aku sadar, bahwa buah yang jatuh tidak semuanya jatuh dekat dengan pohonnya. Itulah aku, saat sebelum aku datang ka YPU. Kerja cepat,tepat dan benar adalah sesuatu yang sedang aku perjuangkan saat ini.

Aku yakin dengan berbagai media pengembangan yang diterapkan oleh YPU, juga dengan bantuan teman-teman serta dorongan dari kedua orang tua asuhku, aku pasti bisa memperjuangkan mimpiku. Aku harus bisa bangkit dari keterpurukanku. Aku pasti bisa membuat buah hidupku yang jatuh dan terlempar cukup jauh menjadi dekat dengan pohonnya.Terima kasih Ayah.
Aku juga sangat bersyukur, karena dengan menulis di Gen Prima Unggul, aku bisa mengungkapkan kekagumanku yang lama aku pendam,oleh karena terbelenggu rasa malu yang begitu besar, melalui tulisan ini.
Ketika suatu saat nanti ayah membaca tulisan ini hanya satu yang ingin aku ungkapkan ayah, “Tasya sangat menyayangi ayah dan Tasya akan terus berjuang untuk bisa membahagiakan ayah dan juga mama. Terima kasih Ayah”.

Tasya-Lembata, NTT

DENDAM dan IMPIAN

Walau sederhana, keluargaku adalah keluarga yag harmonis. Harmonis bukan berarti tidak ada tantangan. Ekonomi yang serba kekurangan menjadi bagian dati tantangan dalam keluargaku. Aku bangga mempunyai papa dan mama yang mampu menjaga keharmonisan keluarga kami. Jika terjadi kesalahpahaman di antara mereka, tindakan yang mereka ambil adalah saling mengingatkan. Tak pernah terjadi kekerasan dalam keluarga kami, budaya ini berlaku juga untuk kami anak – anaknya.
Namun kali ini berbeda, aku telah melakukan kesalahan yang sampai saat ini membekas dalam diriku. Aku tak menjalankan apa yang diperintahkan oleh mama. Aku diminta untuk membersihkan rumah yang sebenarnya adalah kewajibanku sebagai seorang anak apalagi aku adalah anak perempuan. Aku tak menghiraukan apa yang dikatakan mama. Kemalasan muncul dalam diriku. Aku lebih memilih untuk bermain daripada menjalankan apa yang di perintahkan oleh mama. keringat yang tak terhutung tiap tetesnya menyelimuti wajah dan tubuh mama akibat sengatan matahari saat berada di kebun. Kedua kaki keriputnya seolah mengeluh kelelahan karena melakukan perjalanan yang cukup jauh sekitar 1 km dari kebun kerumah.
Manusia mempunyai batas kesabaran. Mama langsung mengambil selang air yang posisinya tak jauh dari tempat mama berdiri. Emosi telah mengendalikannya, seakan ia tak mengenalku lagi saat itu. Aku hanya bisa menangis dan menyesali semua yang telah terjadi padaku . Kulihat matanya berkaca-kaca ketika setiap kali ia mendaratkan selang kebelakangku. Sungguh semua salahku. Aku telah membuat mama begitu marah padaku sehingga iapun memukulku. Aku tahu hatinya sakit bak teriris pisau yang tajam Seharusnya aku meminta maaf kepada mama,tapi entah setan apa yang telah merasukiku malah dendam yang muncul dalam hatiku.
Ini adalah peristiwa yang pertama dan terakhir kalinya terjadi padaku, namun sangat membekas di hatiku. Semua terjadi seakan angin yang berlari tanpa arah dan menurunkan hujan yang begitu lebatnya diiringi badai dan topan yang menghanyutkan.
Untuk kesekian kalinya aku aku ingin mengatakan bahwa aku sungguh sangat menyesal atas semuanya. “Aku sangat menyayangimu mama.” Ini merupakan salah satu kalimat yang selalu aku ucapkan dalam doaku sebelum aku tidur malam.
Setiap orang tak ingin berpisah dengan orang yang ia cintai, sama sepertiku. Namun keinginanku untuk meneruskan perjuanganku ke kota metropolitan ini, memaksaku harus berpisah dari mereka yang aku sayangi.
Yayasan Prima Unggul tempatku menuntut ilmu dan memperjuangkan mimpiku. Sifat sifat buruk yang aku bawa dari daerah sungguh sangat menghambat proses pengembangan diriku di awal aku datang ke YPU. Lagi-lagi aku harus berjuang. Sifat burukku perlahan lahan menghilang karena pola pendidikan yang unik dan pengolahan karakter yang baik.
YPU mengajariku untuk tidak menjadi seorang yang pendendam, memaafkan masa lalu dan menjadikan itu sebagai pelajaran.
Aku akan terus berjuang dan membuat semua yang ku cintai bangga ketika melihatku sukses kelak.

Aswini – Ende, NTT

“Good sister”

22 saya hidup, saya belum menemukan buku panduan “ how tobe a good big sister”. Jika ketemu, saya pastikan saya akan menjadi pembaca setia buku itu. Seringkali streotipe orang-orang tentang kakak yang baik membuat stress mengatur diri sendiri untuk bertindak . Katanya, kakak yang baik harus bisa menuruti semua kemauan adiknya, menjadi contoh positif, dewasa, sabar, bisa jadi penolong dalam segala situasi dan mampu membimbing, which is jauh sekali dari kepribadian saya.
Oh iya, nama saya nova, saya baru saja lulus kuliah. Saya anak ke-4 dari empat bersaudara. Saya beruntung sekali karena sejak lulus SMA saya mempunyai adik sekitar 60 orang. Bukan kebetulan, tapi ini adalah takdir yang indah dari Tuhan. Ketidak mampuan keluarga untuk membiayai kuliah saya, membuat saya bertemu dengan sebuah yayasan yang memberikan kesempatan bisa melanjutkan kuliah. Pada saat yang sama, saya menemukan keluarga baru, lingkungan baru dan saya menjadi kakak dari segi umur bagi adik-adik yang rata-rata masih SMP dan SMA.
Saya ingin, bukan hanya umur saya yang lebih dewasa, saya juga ingin menjadi dewasa dari sifat, bisa mengayomi, tidak egois dan bisa membantu mereka. Bukan karena mereka meminta, bahkan mereka tidak pernah menuntut saya untuk menjadi seperti yang mereka mau. Tetapi saya yang memaksakan diri untuk berubah, yang kadang itu malah menjadikan saya aneh di awal kami hidup bersama di tahun 2014.
Semakin lama hidup bersama teman-teman di Yayasan Prima Unggul (YPU), saya merasakan perubahan besar dalam diri saya. Saya merasa jauh lebih baik, dari segi karakter, pengetahuan umum dan dari segi lainnya, lagi-lagi bukan karena usaha saya sendiri, melainkan bantuan dari teman-teman yang ada di YPU. Semakin lama saya menganggap mereka teman dekat, mereka menerima kekurangan dan kelebihan saya. Kami belajar bersama, mereka mengerti saya, dan saya juga berusaha mengerti seperti yang mereka lakukan. Tertatih?, pasti, berantem, pasti pernah, tetapi dukungan dan pemahaman dari Pembina di YPU kami bisa melewati beragam peristiwa.
Kebersamaan yang saya rasakan selama 3,5 tahun, menyadarkan saya bahwa saya sudah lupa sejak lama untuk mencari buku panduan “ how tobe a good big sister”. Saya juga tidak pernah pusing dan stress lagi bagaimana saya harus bertindak di depan teman-teman, karena mereka dengan sendirinya telah mengajari saya menjadi diri saya sendiri, tidak harus jadi kakak yang serba bisa. Cukup dengan menjadi diri sendiri, saling mengerti, saling tolong menolong, saling mengingatkan dan tentunya jadi “teman”. Karena sebenarnya adik-adik juga tidak punya kriteria khusus “kakak” bagi mereka. Kakak yang baik itu hanya obsesi saya di awal, saya jadi diri saya sendiri adalah yang mereka mau.

Oleh : Nova Siboro – Sumatra Utara