REFLEKSI 8 TAHUN PENDIDIKAN KARKATER YPU: Menularkan Pendidikan Transformatif   Oleh Pak Doni Koesoema A

REFLEKSI 8 TAHUN PENDIDIKAN KARKATER YPU: Menularkan Pendidikan Transformatif Oleh Pak Doni Koesoema A

Doni Koesoema A (Pakar Pendidikan Karakter, Penulis buku-buku tentang Pendidikan Karakter, diantaranya: “Pendidikan karakter. Strategi Mendidik Anak di Zaman Global”)

Pendidikan transformatif. Itulah kesan pertama saya ketika mengunjungi Yayasan Prima Unggul (YPU). Bila kita melihat dari luarny, kita tidak akan berpikir bahwa rumah sederhana di kawasan Pulomas ini adalah sebuah tempat pembentukan karakter individu yang luar biasa. Namun, ketika kita memasuki semakin dalam ke berbagai kegiatan, program, dan bagaimana para pengurus Panti Asuhan mengelola pendidikan di sana, kita akan segera melihat bahwa rumah yang sederhana ini tidak lain adalah rumah perubahan. Rumah yang memberikan kesempatan bagi setiap jiwa yang ada di dalamnya untuk bertumbuh dan berkembang menggapai masa depan.

Saya sudah banyak berkunjung ke Panti Asuhan. Ada beberapa Panti Asuhan memiliki sarana dan prasarana yang bagus, ada yang sederhana, ada yang berkekurangan. Umumnya saya melihat anak-anak di Panti Asuhan cukup senang. Namun, menjadi senang tinggal di Panti Asuhan bukanlah tujuan seseorang berada di Panti Asuhan. Panti Asuhan, dari namanya semestinya mencerminkan sebuah tempat pengasuhan, yang membebaskan dan memerdekakan individu, sehingga menjadi pribadi mandiri yang mampu bertanggung jawab pada hidupnya sendiri, komunitas, masyarakat dan bangsanya. Ia harus menjadi sebuah tempat, panti, yang mengasuh. Artinya membimbing, mengarahkan, mengembangkan, membebaskan, dan memerdekakan individu.

Inilah kekhasan yang dimiliki oleh YPU. YPU, di satu sisi kadang menyebut dirinya sebagai home schooling. Namun menurut saya, istilah ini kurang tepat. Lembaga ini kadang menyebut diri dengan pendidikan non formal berasrama, atau pendidikan Panti Asuhan. Mungkin istilah ini lebih tepat. Secara legal, berdasarkan UU Sisdiknas 2003, apa yang dilakukan oleh YPU lebih tepat adalah sebuah pendidikan non formal, berasrama, yang dikelola secara mandiri dalam jejaring kolaborasi, baik dengan jejaring local maupun global. Mengapa non formal, karena isi kurikulumnya disesuaikan dengan visi dan misi kelembagaan, namun individu bebas mendesain kurikulumnya sendiri. Bila peserta didik memperoleh ijazah, mereka bisa memperolehnya melalui Ujian Kejar Paket.

Mungkin masih ada yang menganggap bahwa Ujian Kejar Paket memiliki kualitas berbeda dibandingkan dengan kualitas di sekolah regular. Saya rasa pemahaman ini keliru. Di era global dan digital seperti saat sekarang, ijazah itu sifatnya relatif, tergantung dari bagaimana individu memandang makna ijazah. Namun terlepas dari memiliki ijazah atau tidak individu hanya akan dapat bertahan hidup bila ia memiliki semangat belajar mandiri yang tinggi. Inilah salah satu tujuan pendidikan di YPU.

Dunia saat ini berubah begitu cepat. Persoalan datang silih berganti. Bahkan, apa yang akan menjadi persoalan ke depan pun kita belum tahu. Maka, pendidikan yang tidak mampu mentransformasi individu menjadi individu yang gemar belajar, mandiri, memiliki keterampilan dasar yang dibutuhkan, baik secara individual dan social, memiliki visi dan cita-cita yang diperjuangkan setelah melihat minat, bakat, dan bekal kemampuan yang dimilikinya, individu tersebut tidak akan dapat berhasil di masa depan.

Dengan kata lain, pendidikan semestinya membangkitkan seluruh dimensi transformatif dalam diri individu, baik itu dimensi pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai kehidupan yang menjadi pandu bagi cara mereka bertindak di masa depan.
Pendidikan di YPU merupakan salah satu model pendidikan yang membebaskan sekaligus memperkaya individu, dan serentak memberdayakan mereka. Pemberdayaan yang dilakukan di YPU bukanlah sekedar pemberdayaan individu secara personal, melainkan secara sosial, sebab sebagian besar anak-anak yang tinggal di Panti Asuhan adalah anak-anak yang dari konteks sosial ekonomi memiliki masalah. Tidak mudah untuk membangkitkan motivasi dan memberi harapan pada peserta didik dengan latar belakang ekonomi yang sulit. Mereka ini, bila tidak didampingi akan tetap berputar berputar-putar pada lingkaran kemiskinan. Situasi ini sangat jauh dari ideal hadirnya sebuah masyarakat yang bermartabat. Padahal, pendidikan yang baik semestinya semakin memartabatkan manusia itu sendiri sebagai individu yang mampu mengatasi keterbatasan diri, mengubah diri, mentrasformasi diri menjadi individu yang lebih baik, cerdas, sehat, dan memiliki kemampuan untuk melahirkan dampak-dampak baik bagi masyarakat. Pendidikan itu mentransformasi, memanusiakan dan memartabatkan.
Buah-buah pendidikan transformatif ini sudah mulai bisa dilihat dari proses pendidikan yang telah dijalani YPU selama 8 tahun ini. Apa yang sudah dilakukan oleh YPU adalah ibarat sebuah kapal yang sudah berada di jalur dan arah yang benar, sehingga tantangan mendasar ke depan perlu dijawab oleh pengelola YPU adalah bagaimana menularkan kebaikan pendidikan transformatif di YPU ke sekolah-sekolah dan panti-panti asuhan yang lain.
Semangat yang menjadi inti proses pendidikan di YPU perlu di tularkan kepada semakin banyak lembaga dan pengelola pendidikan. Semangat itu adalah “lakukan dengan tulus, tujuan jelas, cara yang cerdas, tindakan nyata dan totalitas.”
Ketulusan adalah kunci keberhasilan sebuah proses pendidikan. Ketulusan bertumbuh dari kedalaman hati yang bersih. Dengan kejernihan hati seperti ini, dorongan untuk memanipulasi kehadiran peserta didik yang di percayakan kepada pengelola sekolah tidak akan tejadi. Inilah banyak tantangan pendidikan. Melahirkan pendidik yang tulus, yang akan pula melahirkan pembelajar yang tulus.
Pendidikan juga memerlukan tujuan yang jelas. Maka, tidak mudalah bagi pengelola pendidik untuk membantu peserta didik memiliki kejelasan akan tujuan hidup mereka. Bila tujuan yang ingin di capai jelas, pendidik bisa membantu peserta didik memillih alternatif sarana yang lebih efektif dalam mencapai tujuan. Jika tujuan inidividu adalah menjadi seorang seniman yang berkaliber internasional, segala hal yang terkait dengan pengembangan diri sebagai seniman haruslah menjadi hal utama yang dilatih, diajarkan dan dilakukan.
Pilihan sarana, kegiatan, dan cara memanfaatkan waktu, ingin mencerminkan sebuah kecerdasan dalam bertindak. Tidak semua hal harus dilakukan bila hal itu tidak mendukung tercapainya tujuan. Bila tidak, individu akan melakuakan suatu pekerjaan secara sia-sia, apalagi bila pekerjaan itu tidak pernah keluar dari kedalaman hatinya sendiri, alias dalam keterpaksaan. Pendidikan YPU melatih individu untuk memiliki kecerdasan dalam menentukan cara untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan idividu.
Pilihan yang cerdas tidak selalu mudah dan gampang. Karena itu, banyak idividu gagal karena meskipun mereka tahu ada pilihan cerdas untuk berhasil, namun mereka tidak mau melalui jalan-jalan itu karena mereka tidak mau bertindak. Maka, selain memiliki cara yang cerdas, individu juga perlu malakukan tindakan nyata. Tindakan nyata mangandaikan ada motifasi, niat dan ketekunan. Bila tidak, tindakan nyata tidak akan pernah terjadi, dan pendidikan yangn cerdas pun hanya menjadi sebuah wacana alias diskusi hampa belaka. Pendidikan pada akhirnya adalah melatih individu untuk bersikap dan bertindak. Maka, melalui tindakan demi tindakan itulah individu membangun masa depannya. Bukan dengan pemikiran demi pemikiran, bayangan demi bayangan, atau impian demi impian.
Yang terakhir adalah sebuah totalitas. Hidup membutuhkan totalitas, dan totalitas akan menghidupi anda.
Di tengah dunia yang menyediakan banyak pilihan, memiliki sikap total tidaklah mudah. Sebab, totalitas ada tanda kesetiaan dan komitmen. Ini berarti hanya melalui totalitaslah individu itu bertuju apa yang sungguh menjadi perhatian dan komitmennya. Seorang penulis buku bila ia secara total mendedikasikan hidup dan waktunya dengan kegiatan yang mendukung untuk menulis sebuah buku. Demikian juga seorang seninam tari, pelukis, pencipta lagu, guru dan lain-lainnya. Totalitas adalah besaran alokasi waktu yang anda berikan untuk sebuah komitmen hidup yang dipilih.
Dalam totalitas komitmen inilah individu mengalami kepenuhan dirinya sebagai individu yang merdeka dan bebas menbangun masa depannya, membangun hidupnya, menbangun komunitasnya, dan membangun masyarakatnya. Hanya melaui sikap total inilah pendidikan yang tranformatif terjadi.
Kepada teman-teman yang telah menjadi bagian dalam sejarah YPU, saya ucapkan selamat atas pencapaian ini. Teruskan semangat ini. Tularkan apa yang sudah kalian lakukan pada semakin banyak orang, komunitas dan kelompok. Semangat yang kalian miliki bukanlah kekayaan yang diberikan Tuhan pada diri anda dan teman-teman semata, melainkan seharusnya menjadi berkat bagi semua orang yang memiliki niat tulus untuk mengembangkan pendidikan transformatif di Indonesia dan dimanapun mereka berada.

Jakarta, 11 Februari 2019

Doni Koesoma A.

Add your Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *