Sejarah Berdirinya Yayasan Prima Unggul

Sejarah Berdirinya Yayasan Prima Unggul

Yayasan Prima Unggul didirikan oleh Bapak Martinus Mesarudi Gea bersama dengan beberapa pemerhati sosial lintas agama, suku dan ras. Berdirinya Yayasan/ sekolah ini tidak terlepas dari keprihatinan Pak Martin atas realitas pendidikan Indonesia umumnya dan panti- panti asuhanan khusunya. Keprihatinan itu berawal dari sebuah pengalaman yang menyentak batinnya. Dalam kunjungan selaku coordinator FKPA Pusat kesebuah panti jompo, Pak Martin di kejutkan oleh pernyataan salah seorang penghuninya: “Nak Martin, Nenek dulu waktu kecil tinggal di panti, anak nenek juga pernah tinggal di panti dan saat ini cucu nenek pun tinggal di panti”. Sejak saat itu Pak Martin terus menganalisa fenomena penghuni panti yang secara turun temurun tinggal di panti asuhan.

Analisa refleksi yang terus menerus itu kemudian mengerucut pada kesadaran tentang penyebab fenomena ini, yaitu adanya pandangan tentang panti asuhan sebagai tempat tinggal anak-anak kurang beruntung, orang yang tidak berdaya dan patut dikasihani. Pandangan seperti ini membuat para pengurus panti berjuang keras untuk menyediakan berbagai kebutuhan dan fasilitas. Gambaran demikian juga membangkitkan rasa iba dan kasihan para donatur sehingga mereka terdorong untuk memberikan berbagai kebutuhan untuk mendukung para pengurus panti. Paradigma yang salah pada anak panti mengakibatkan anak pantipun memandang diri mereka sendiri sebagai objek belas kasihan yang tidak berdaya dan hanya bergantung pada pengurus dan donatur. Amatlah sangat wajar kalau akhirnya anak panti menerima kenyataan bahwa mereka adalah generasi miskin yang tidak mampu menghidupi diri dan keluarga kelak, sehingga panti asuhan selalu menjadi sinterklas yang juga akan menerima dan menampung anak-anak mereka. Dengan ini, tanpa disadari sebuah lingkaran kemiskinan telah dilestarikan oleh stakeholder panti asuhan.

Kesadaran ini menjadi dorongan kuat dalam diri pak Martin untuk melakukan sesuatu demi menjawab keprihatinanya. Beliau membangun impian tentang pendidikan dan pendampingan yang menjadikan anak-anak panti sebagai pribadi-pribadi manusia yang mandiri. Impian itu kemudian diwujudkan dalam tindakan nyata. Setelah berdialog dan membangun kerja sama dengan beberapa pemerhati sosial, pada tanggal 11 Februari 2011, Pak Martin mendirikan Yayasan Prima Unggul. Di dalam dan melalui Yayasan Prima Unggul, keprihatinan dan kegelisahan terhadap lingkaran kemiskinan anak panti diubah menjadi impian yakni “melahirkan 10.000 enterpreneur baru dan pekerja profesional lahir dari panti asuhan dan keluarga sederhana” dengan cara menjadikan mereka mandiri dan berdampak positif bagi orang lain. Yayasan Prima Unggul hadir sebagai sebuah sekolah yang menerapkan kurikulum nasional dan kurikulum berbasis wirausaha. Dengan menyajikan secara proporsional perubahan mindset, pembentukan karakter, bidang akademik dan praktik  keterampilan serta pengembangan bakat talenta.

Hingga saat ini, Yayasan Prima Unggul semakin mantap dalam memperjuangkan misinya.  Dari waktu ke waktu, YPU terus membangun kemitraan dengan para praktisi dunia usaha, sekolah-sekolah,perguruan tinggi dan komunikasi yang memiliki tujuan untuk memberdayakan generasi muda.  Beberapa unit usaha mulai di buka dan dikembangkan, antara lain: Pengembangan seni dan musikal, Magna VoG, paduan suara YPU, catering Lumbung Selera, pusat pelatihan wirausaha Gen Prima Unggul, produk ramah lingkungan Ello Jello dan menjahit.  Khusus bagi anak laki-laki belajar mengelola jasa cucian motor dan pengembangan pelatihan alat musik tradisional.  Dari unit-unit usaha siswa, bisa membiayai operasional kebutuhan harian dan biaya pendidikan sampai 75%.  Tantangan riil yang dihadapi oleh YPU adalah; pola didik yang di kembangkan YPU yang fokus pada pengembangan potensi diri dan pembentukan karakter dan ujian akhir melalui jalur paket B dan C; hal-hal seperti ini kurang populer di tengah dunia pendidikan yang selalu berlomba dengan angka dan ijazah minded.  Praktek-praktek wirausaha yang general di praktekkan oleh YPU sering di cap sebagai eksploitasi anak-anak.

Seperti aliran sungai sejuk, saat kebijakan pemerintah tentang pendidikan fokus pada kurikulum berbasis kompetensi dan karakter, sehingga apa yang kami perjuangkan dan telah terlihat buah-buah semakin meneguhkan dan seakan sebuah pengakuan dari otoritas pemerintah tentang konsep pendidikan yang selama ini di kembangkan oleh YPU.

Add your Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *